Friday , 15 December 2017
Home » Uncategorized » Abah ASI part-2

Abah ASI part-2

Ini throwback waktu Sa’ad diimunisasi DPT yang membuat dia demam dan nyeri. Kalau lagi sakit, bawaan neuk agam kami ini suka keunyeh alias manja tak terkira. Dia maunya digendong, ditimang-timang aja. Syukurnya manja dia tidak hanya dengan umi, tapi juga dengan abah. Meski, dipeluk umi tetap lebih afdhol kalau kondisi lagi begini. Selain dengan kami berdua, dia pasti nangis-nangis histeris. 

Saya bersyukur untuk realita ini. Melihat Sa’ad kesakitan dan nangis histeris, umi bawaannya sedih nyesek gimana gitu. Kalau udah sedih khawatir gundah gulana begini, ASInya jadi korban. Kedekatan Sa’ad dengan Abah memberi ruang jeda untuk umi menenangkan diri. Memotivasi diri bahwa Sa’ad akan baik-baik saja, sehingga bisa menstransfer energi positif untuk Sa’ad agar lekas segar bugar kembali. 

Di sisi lain, realita ini juga berarti Abah telah berhasil membangun kedekatan dengan Sa’ad. Ini adalah pencapaian yang luarbiasa bagi seorang ayah. Menjadi lekat dengan umi adalah anugerah yang Allah mudahkan dengan menyusui dan naluri. Tapi untuk ayah, kedekatan dengan anak butuh perjuangan dan usaha. Alhamdulillah, Abah Sa’ad bersedia berusaha bersama membangun kedekatan ini. 
Setiap Abah pergi atau pulang kerja, kami membiasakan Sa’ad untuk salim dan senyumin Abah. Saya juga memberi ruang waktu bagi mereka berdua untuk memiliki “men talk.” Lebih baik jika diselingi dengan ganti pampers, cuci pipis, atau ngaji bareng (Abah yang ngaji, Sa’ad dengar aja :D). Umi baru akan menyelingi kalau Sa’ad kangen umi atau Abah perlu berkativitas kembali. Karena “men talk” ini sangat sempit, mulai dari magrib sampai insya, mengingat jadwal kerja Abah yang lumayan padat. Kami mencoba menggunakan waktu ini dengan sebaik-baiknya. 

Bagi kami berdua, kedekatan kami berdua dengan Sa’ad adalah sebuah keharusan untuk menyukseskan ASI eksklusif 6 bulan. Sudah 4 bulan kami bekerjasama dengan apik. Ada sisa 2 bulan lagi sebelum kelulusan ASIX. Tidak lama lagi memang, tapi terornya semakin besar. Umi mulai aktif kembali, desus-desus Sa’ad “tidak kenyang lagi dengan ASI” mulai sering-sering dihembuskan. Membuat ragu dan khawatir saja. Tapi, kami tetap berkeras kepala sambil terus berdoa, semoga Allah memudahkan niat mulia ini.