Friday , 15 December 2017
Home » CATATAN PIKIRAN » Antara Wanita, Syariat Islam, dan Aceh
Antara Wanita, Syariat Islam, dan Aceh

Antara Wanita, Syariat Islam, dan Aceh

Setiap pulang dan berjumpa amak, selalu saja ada hal yang diceritakan, tepatnya dinasehati. serunya, kali ini masalah wanita dalam islam. merujuk pada pengajian beliau tadi sore, amak mulailah mengupas tentang hukum wanita berpergian dan juga dalam berbusana. mulailah kami cek-cok sedikit, beda pendapat, saling menyalahkan, tapi tetap, ujungnya kami menarik kesimpulan; kalau wanita muslim itu harus cantik, cerdas, dan juga islami.

Entah kenapa, pembahasan tadi kembali mengingatkanku akan isu hangat beberapa saat lalu, yang mengatakan kalau syariat Islam di Aceh membelenggu perempuan. Jujur, bagi saya yang notabenenya adalah wanita Aceh entah kenapa statement itu terdengar lucu dan menggelikan. Dan selaku wanita Aceh, saya rasa saya punya hak dan harus berbicara mengenai masalah ini, minimal untuk meyakinkan diri saya, adakah saya merasa demikian?

Begini, sedikit saya jelaskan latarbelakang dan apa yang saya rasakan. jujur, saya terlahir dalam keluarga besar, 9 bersaudara, dan jumlahnya didominasi oleh laki-laki, dimana hanya 3 perempuan dan 6 laki-laki. saya terlahir di Aceh, dari Ayah dan amak yang berdarah Aceh, dan juga dibesarkan di Aceh, dan tentunya dibesarkan dalam nuansa Keislaman yang sangat kental. Namun, selaku perempuan, tak pernah sekalipun saya merasa ada perlakuan berbeda antar wanita dan laki-laki dalam keluarga kami, juga dalam masyarakat dimana saya tinggal. Dalam keluarga kami, jika yang laki-laki mendapatkan pendidikan tinggi, bahkan hingga ke luar negeri, maka yang perempuan, jika ia ingin menggapainya juga berhak mendapatkan hal yang sama, bahkan hingga ke luar Benua. Perlakuan setara itu bukanlah dikarenakan latarbelakang pendidikan Ayah dan Amak saya yang tinggi, ataupun keduanya aktivis gender, bukan juga karena kami berasal dari keluarga bangsawan dan jutawan. Ayah saya hanya tamatan SD era penjajahan jepang dulu (ntah ada tamat pun), dan amak saya hanya lulusan sekolah keguruan. Namun, semua perlakuan itu adalah karena pegangan keduanya yang kuat akan perintah Allah; kalau semua anak-anak harus dididik dengan baik, tanpa perbedaan. Bukankah Nabi sendiri juga memperlakukan anak perempuan dan istrinya secara terhormat begitu juga.

Tidak hanya itu, dalam hal kepemimpinan pun, perempuan dan laki-laki pun diberi hak yang sama. Buktinya, di TPM saya menjadi Direktur utama, sedang bang Rayeuk saya menjadi salah satu anggotanya, padahal jarak umur diantara kami hingga 4 tahun. Tapi, tetap, dalam kegiatan professional, tidak ada kejanggalan diantara kami dalam berkegiatan, kami saling menyokong satu sama lain. tak hanya itu, malahan di GLA, saya menjadi ketua Pokja, sementara Amak dan Ayah menjadi salah satu anggotanya. Namun, lagi-lagi, tak ada kejanggalan yang terjadi. Karena, dalam keluarga kami, pemimpin itu bukanlah dilihat dari jenis kelamin dan tuanya usia, tapi dilihat dari segi kapasitas. Namun, hal itu tidak berarti kalau saya jauh lebih berkapasitas dari mereka semua, tentu saja tidak. Akan tetapi, semua itu dilakukan adalah untuk membina dan mempersiapkan saya menjadi pemimpin yang baik, selayaknya ratu. Seorang ratu yang kuat, cerdas, cantik, dan juga berguna bagi sesama.

Berbicara masalah ratu, selain diperlakukan dengan cara yang sama, ada satu hal lagi yang paling saya syukuri terlahir sebagai wanita muslim adalah karena kami diperlakukan lebih dari sekadar sama dengan laki-laki, akan tapi kami lebih dimuliakan dari wanita biasa, kami diperlakukan laksana ratu. Kata amak, setiap wanita muslim terlahir sebagai ratu, tanpa terkecuali. Laksana ratu, kami harus terjaga, terhormat, dan juga disayangi dan dilindungi dengan sebaik-baiknya. Mungkin, ketika saya masih SMP, masih labil-labilnya, saya menjadi salah satu orang yang paling kesal dengan sikap ayah, amak, kedua kakak saya, dan ke-6 bodyguard saya yang bak kamera sisi TV saja, sangat overprotektif, kemana-mana ditanya; sama siapa, ngapain, kapan pulang, siapa2 saja kawan, dan masih banyak lagi. Saat itu, jujur saya jengah. masak saya tidak punya kebebasan dan privasi sedikit pun? Namun, peristiwa naas yang menimpa Diana beberpa waktu lalu cukuplah menjadi pelajaran, kalau selama ini seharusnya saya bersyukur dan merasa tersanjung, karena telah disayangi dan dilindungi dengan segitu baiknya. saya seharusnya bangga, karena telah terlahir dan terdidik sebagai seorang ratu, bukan hanya sebagai sebatas seorang wanita.

Laksana seorang ratu, setiap wanita memiliki mahkota sebagai penghargaan, juga sebagai marwah diri. sejak kecil, amak selalu mengabari kalau bagi kami, wanita muslim,  kami memiliki mahkota, yaitu jilbab. ia menjadi pelindung, perhiasan, juga identitas kami selaku ratu muslimah. Karenanya, bagi saya, jilbab itu bukanlah suatu kewajiban yang membelenggu. Akan tetapi, ia adalah HAK setiap wanita muslim. saat saya masih di SMP, jujur saya juga tidak suka dengan jilbab, selain panas, saya juga tidak bisa pamer dengan rambut saya yang bagus (penilaian ini jelas sangat subjektif loh, hahaha). masak punya rambut bagus ditutup-tutupi, rugi, juga tidak bebas berekspresi. Begitulah kira-kira yang terbersit dibenak saya. Namun, saat saya menginjakkan kaki di negara orang-orang yang mempunyai masyarakat muslim yang minoritas, dimana segala jenis identitas ada di sana, baru saya sadar dengan akan betapa bangganya saya dianugerahi mahkota sebaik itu, kemana pun saya berjalan saya merasa aman, nyaman, juga cantik.

singkat cerita, I’m so happy to be a muslim woman, to be born, raised in Aceh and live in Lambirah villagers community, as well as i’m happy to be blessed as the last Queen in Adnan’s empire. :)

*karenanya, jika ada yang mengisukan kalau syariat Islam membelenggu wanita di Aceh, saya rasa itu menggelikan. Tapi, jika dikata ada beberpa oknum yang membelenggu wanita dengan menunggangi penegakan syariat di Aceh, itu bisa jadi benar adanya. Sama menggelikan, tepatnya mengerikan, bagi mereka yang mencoba menggunakan ‘syariat’ sebagai alasan untuk melemahkan dan membelenggu wanita. seburuk-buruknya penjajahan terhadap wanita dalah tidak diberinya hak untuk berpendidikan tinggi. sekian, mari eh malam. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.