Friday , 15 December 2017
Home » CATATANKU & TPMT » Cinta itu Allah, Allah itu Cinta.
Cinta itu Allah, Allah itu Cinta.

Cinta itu Allah, Allah itu Cinta.

Wow.. sudah lama saya tidak berkunjung kemari ya. so sorry T.T

No more chitchat, just to the point. Cerita begini, dua hari yang lalu saya ke rumah cek Lu, penjahit kesayangan, untuk mengambil baju yang kata Anda (kakak) saya sudah selasai “di-edit,” alias dipotong dan dikecilkan karena sudah rahasia umum kalau saya itu terlalu imut untuk bau-baju di pasaran, wkwkwk). Awalnya saya tidak ingin kesana, tapi karena sambilan ke luar ke pasar, ya sekalian saja saya mampir. Tada.. begitu saya tiba di sana, azan berkumandang riang di kejauhan. Jadilah saya terbengong sendiri di luar. Karena,  sudah jadi kebiasaan Cek Lu, jika waktu shalat tiba, pintu rumahnya pasti ditutup dan didepannya ditulis “maaf, sedang shalat.”

Sambil menunggu di kursi luar, saya terkagum-kagum seorang diri. Ini lah Cek lu, sang idola dan penjahit kesayangan. Beliau adalah sosok wanita shalehah, lembut, sederhana, serta baik dan istiqamah luarbiasa. Beliau begitu keukeuh memegang prinsip “tidak mau menjahit celana, baju ketat, ataupun berlengan pendek.” Rugikah beliau dengan prinsip itu? Tidak sama sekali. Karena prinsipnya itu, beliau malah terkenal sebagai “spesialis” gamis dan baju muslimah. Baginya menjahit adalah hobi. Apalagi baju anak-anak, “rasanya seperti refreshing.” Begitulah ia mencintai pekerjaannya.

 Ia menjahit untuk menolong. kenapa aku berkata demikian? karena tarifnya itu murah sekali. Baju gamis biasa berkisar 60-70 ribu, kalau sudah berodel-model sedikit, alias sudah susah dijahit, baru harganya jadi 90-100 ribu. Bahkan terkadang harga itu bisa turun lebih jauh lagi jika ia mengetahui kalau yang meminta bantuannya itu adalah orang dari kalangan kurang mampu. Selain murah, hasilnya pun luarbiasa, rapi dan cantik.

Karenanya, tak heran jika langganannya itu sangat banyak. Luarbiasa banyak. Jika ingin menjahit baju kepada beliau, kita harus mengantri jadwal “siap,” Misalnya kita ingin memakai bajunya bulan juni, maka kita sudah harus mengantri sejak bulan Mei. Lucunya kalau sudah dekat lebaran. Biasanya kalau sudah masuk bulan Ramadahan beliau langsung mengambil keputusan untuk menghentikan orderan, karena takut tidak terkejar untuk lebaran. Jadilah kami, para langganannya sejenis berlomba-lomba siapa cepat beli dan antar kain, serta carter jadwal siap. Ini paling sering terjadi antara aku, kakak, kakak ipar, serta keponakan-keponakan kami yang tantik-tantik tu.

“Mucut kog. Cek lu kira siapa. masuk! Tapi baju Mucut belum siap.” Tiba-tiba pintu dibuka, Cek lu yang masih dalam balutan mukena menyapa. Cek Lu memanggilku mucut, karena yang pertama langganan dengan beliau adalah keponakanku, dan mereka lah yang mengajakku kemari.

Lah, kog belum siap? bukannya saya dapat kabar katanya sudah siap. Rugilah waktu saya jauh-jauh kemari. Melihat raut sedih saya, Cek Lu langsung mengajak masuk dan mengatakan bajunya akan disiapkan sekarang, “karena tidak banyak yang harus diubah.” Ternyata terjadi kesalahan dalam pemahaman dari pembawa kabar, alias orang kampung saya yang juga meminta tolong Cek Lu menjahitkan bajunya. Cek Lu mengatakan kalau baju saya sudah lama saya minta tolong di-edit, eh tapi sampai sekarang belum sempat-sempat dipegang, padahal hanya sedikit yang perlu diubah. Jedeng-jedeng, nalar orang beda-beda ya. :(

Nah, di saat saya sedang bosan-bosannya menunggu itulah, terdengar suara salam dari luar. Ternyata Bapak dan si adek (suami dan anak bungsu Cek Lu) sudah pulang. Kuterka pulang dari Mesjid, selepas shalat ashar berjamaah. “Sudah shalat?” saya kira si Bapak berbicara dengan anaknya. Ternyata bukan, ia menghampiri Cek Lu yang sedang sibuk dengan gunting dan baju saya. Awalnya rautnya datar, tapi saat melihat Cek Lu yang masih dalam balutan mukenah, senyumnya mekar dan  “Alhamdulillah, begitulah adanya, mana boleh melayani manusia terlebih dahulu. Tetap Allah harus didahulukan. Layani Allah dulu, baru layani manusia.” Cek Lu tidak menjawab, ia hanya tersenyum manis, dan Bapak membalasnya dengan senyum yang tak kalah manis. Kejadian itu hanya sebentar, lantas Bapak bergegas ke dalam.

Oh my God. jujur, jika ada yang bertanya padaku apa itu cinta. i’ll answer, i’ve no idea about it. Tapi, melihat cara senyum dan tatapan keduanya, aku kog jadi malu sendiri ya. Manis sekali pokoknya. Tanpa kata gombal, tanpa untaian puisi romantis, hanya tatapan dan senyuman tulus, tapi cukup mengabarkan kepadaku bahwa betapa keduanya sungguh saling mencitai, kerennya lagi, mereka mencintai karena Allah. Tahu apa? Padahal keduanya sudah berusia 45an ke atas, tampak dari uban-uban di rambut dan jenggot Bapak. Karena kalau Cek Lu saya tidak tahu, karena beliau selalu siaga dengan jilbab besar yang anggun.

Sangking terpesona, saat bapak sudah menjauh, reflek aku berujar “Ah Cek Lu, betapa bahagianya kalau punya suami begitu ya.” Cek Lu hanya tertawa melihat saya yang mulai sakau. Tapi, tiba-tiba saya jadi penasaran sendiri, saya dekati Cek Lu dan bertanya “Cek Lu dulu dijodohin atau kenal sendiri?” Cek Lu termangu. Mungkin dikira ini anak kog sakaunya enggak habis-habis ya. Melihat ekspresiku yang memelas dan penasaran, ia tertawa dan menjawab “Alah mucut ini, ada-ada saja pertanyaanya. haha. Em, dijodohin juga iya, kenal sendiri juga iya.” Waduh, kog membingungkan ya.

 Mulai lah beliau bercerita. Bahwasannya beliau dan Bapak dulunya bertetanggaan. Jadi dari kecil sudah saling kenal. Cuman hanya kenal sebagai tetangga saja, tidak lebih. Lantas, ketika dewasa bapak lulus menjadi guru, dan ditugaskan di Idie. Saat itu, mulai banyak yang menjodohkan Bapak. Tapi tidak satupun yang diterima, ia hanya menjawab “Saya sudah punya calon di kampung.” Padahal waktu itu Bapak belum punya calon, hanya saja dari ceritanya, saya menebak kalau Bapak memendam rasa untuk Cek Lu, hanya saja beliau tidak mengumbarnya. Yang beliau lakukan hanya satu, shalat tahajud dan istikharah, sambil terus berdoa “Ya Allah, meunyoe lon lakee, neubre keuh beujitem.” (Ya Allah kalau kulamar, biarkan dia menerimanya.” Selama dalam masa tugasnya, itulah selalu yang dilakukannya, sambil terus memendam rasa dalam diam. Lain dengan Bapak, lain juga dengan Cek Lu. Pada waktu itu banyak juga yang melamarnya, tapi entah kenapa tidak ada satu pun yang cocok dan mengena hatinya, alias tidak ada satu pun yang diterima. “Mungkin teuga that Bapak meudoa” ujur Cek Lu sambil tertawa.

Aku hanya terdiam. Itu tidak logis. Masak hanya begitu? Kemudian kulihat Bapak keluar dengan peralatan kerjanya, palu dan kawan-kawan, sepertinya beliau hendak membetulkan sesuatu. Aku melihat Cek Lu, dan aku lantas berpaling ke Bapak, dan tersadar “Bukankah cinta itu memang tidak logis, jadi kenapa mengharapakan proses mencintai dan memiliki yang logis pula? Lagipula, usaha Bapak bukankah usaha yang paling logis? Allah yang menjadikan cinta, Allah pula yang menitipkannya pada siapun yang dikehendaki. Lantas, ketika realitanya begitu, bukankah usaha yang paling logis adalah meminta pada Allah langsung? Kenapa harus sibuk-sibuk mencari mak comblang, situs itu situs itu yang tidak jelas hanya untuk dapat jodoh? Biarkan Allah yang jadi “Mak Comblang”nya.

Karena terlalu lama menunggu, aku meminta ijin Cek Lu untuk shalat ashar di rumahnya, yang sudah pasti langsung di iyakan. Memasuki rumah beliau, eforianya hampir sama saat memasuki rumah bunda. Meski rumahnya sangat sederhana, bahkan kursi tamu pun tidak ada, tapi mushalla tempat shalatnya bagus sekali dan nyaman sekali. Berada di rumah ini, saya juga seperti merasa di dalam surga. Rasanya hati sangat nyaman.

 Selesai shalat, ternyata baju pun tidak kunjung siap, karenanya aku pamit pulang. Saat keluar, aku kembali dikejutkan dengan pemandangan indah, yaitu Bapak sedang menyapu di halaman, sementara Cek Lu menjahit di dalam. Aku juga baru teringat, bahwa saat aku mebawakan baju sebulan yang lalu, aku juga melihat Bapak sedang menjemur pakaian, dan Cek Lu menikmati hobinya menjahit. Jujur, ini baru pertama kali aku melihat langsung laki-laki Aceh Besar mengerjakan pekerjaan yang sering dikata pekerjaan wanita. Aku speechless, dan bergegas pulang.

Dalam perjalanan aku bergumam, “Allah, jika kita mau berdoa, persoalan jodoh saja yang terkesan sakral dan gimana gitu saja bisa terselesaikan dengan mudah dan sangat manis, apalagi dengan persoalan “lulus semester ini” dan pesiapan kapal selam menuju rumahMu kan? Karenanya, ijinkan saya lulus semester ini ya, agar saya bisa segera mengejar cita-cita kapal selam dan tiket kemana saja. Please Ya Allah ya. please! Aamiiinn Ya Rabb. hehehe”

Kini, semangat lagi mengurusi skripsi.. hahaha :p

Leave a Reply

Your email address will not be published.