Friday , 15 December 2017
Home » CATATAN PERJALANAN » Cita-Cita Kunang-Kunang Nusantara
Cita-Cita Kunang-Kunang Nusantara

Cita-Cita Kunang-Kunang Nusantara

Kawan, pernah kah kalian merasa hidup itu seperti roler coaster? Yang emosi kita naik turun tak karuan dalam waktu bersamaan? Terkadang kita harus menangis keras sekali, tapi tak lama kemudian kita tak kuasa menahan tawa kesenangan? Begitulah perasaan saya saat tiba-tiba mendapatkan undangan ke istana negara untuk mendapatkan penghargaan ‘Pelita Nusantara’ dari presiden RI.

Air mata itu…

Saat itu, jujur, kepala saya mumet sekali. Saya sudah berjanji pada diri sendiri, apa pun cerita murid-murid TPMT tidak boleh putus sekolah. Mereka tidak boleh berpuas hati hanya bisa sekolah hingga tingkat SMA. Mereka harus kuliah, jika perlu hingga tingkat post-doc sekalian. Biayanya bagaimana? Inilah monster terbesar yang menjerat anak-anak dan pikiran saya. jika berharap keluarga mereka yang membiayai keuangan sekolah mereka, tentu jawabannya “Mending kerja saja sana! Mau bayar kuliah dengan apa? Pakai daun?”

Hati saya semakin tersayat karena yang akan lulus dari SMA tahun ini adalah Rahmi dan Suci. Mereka berdua adalah murid terbaik, juga sekaligus guru terbaik yang dimiliki TPMT. Iya, mereka adalah guru. Meski masih duduk di bangku SMA, karena faktor kekurangan relawan pengajar di TPMT, saya mempercayakan murid-murid SMA yang berpotensi untuk menjadi relawan pengajar, tentu setelah melatihnya.

Rahmi dan Suci adalah dua jelmaan husnul yang terpisah. Rahmi adalah anak pertama dari 4 bersaudara dari sebuah keluarga yang sangat sederhana. Kedua orang tuanya adalah petani. Meskipun demikian, semangat belajar Rahmi luarbiasa keren, melebihi semangat belajar saya. Pagi hari ia ke sekolah, sore hari membantu kami mengajar di TPMT, dan selepas Magrib hingga Isya ia membantu Mamak saya menjadi guru ngaji di Pengajian An-Nur. Bisa dipastikan, sebagai seorang remaja SMA, Rahmi sama sekali tidak punya waktu untuk berhura-hura. Bahkan untuk beberapa hal, ia hampir tak punya waktu untuk membantu kedua orang tuanya di sawah. Padahal kegiatan yang dilakukannya adalah kegiatan ber-gaji-kan “terimakasih!”

Namun, yang sangat saya kagumi dari keluarganya adalah pengertian dan semangat pendidikan kedua orang tuanya. Keduanya sangat mengharapkan anak-anaknya dapat tumbuh menjadi anak yang cerdas yang membahagiakan orang tuanya. “Selama ia senang, nyaman dengan kegiatannya, dan bisa membagi waktu dengan baik, bagi kami itu bukanlah sebuah masalah. Kalau ia terbiasa sibuk sejak kecil, ia juga akan mudah mengatur diri saat dewasa nanti” begitulah prinsip bijak kedua orang tuanya, padahal karena kesibukan Rahmi dan adik-adiknya, mereka sampai harus memotong dan mengangkut gabah dari sawah di malam hari, selepas Rahmi dan adik-adiknya pulang mengaji.

Terbayangkah kalian teman? Sebuah keluarga kecil harus bersusah payah di tengah sawah, dalam gelapnya malam, demi mengais sedikit rejeki karena anak-anaknya meluangkan waktu berharganya untuk mengajar di TPMT? Padahal di TPMT mereka tidak dibayar sama sekali. Namun, ia tak pernah mengeluh dengan kegiatannya yang super sibuk itu. Ia bahkan sangat menikmatinya. Kalian tahu kenapa teman? Karena Rahmi bercita-cita ingin menjadi seperti Kak Imah, yang bisa berkomunikasi dengan orang luar negeri tapi juga perhatian untuk nasib anak-anak desa. Itulah kenapa, saya akan sangat bahagia jika Rahmi bisa kuliah di UIN Ar-Raniry jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) dengan beasiswa penuh. Karena itu lah cita-citanya.

Setiap mengingat cita-cita dia, saya selalu ingin menangis. Rupanya meskipun seteledor ini, ada seorang anak hebat yang bercita-cita ingin menjadi seperti saya. Jujur, jika ia diberikan kesempatan, dia bahkan mampu menjadi seseorang yang lebih hebat dari saya. Jauh lebih hebat dari saya, karena survival dan semangat juangnya hebat sekali. Itulah kenapa, jika sampai Rahmi harus putus sekolah, saya tidak akan pernah tenang menikmati setiap pencapaian saya. saya akan mengutuk diri saya sendiri.

Suci adalah anak yang tak kalah hebat. Meski hidupnya tidak sesusah Rahmi. Tapi ia juga termasuk kategori keluarga sederhana, yang tidak akan mampu membiayai keuangan kuliahnya. Tapi, ia juga mendedikasikan dirinya seperti Rahmi. Pagi ke sekolah, sore ke TPMT untuk mengajar, dan malam ke Pengajian An-Nur untuk mengajar mengaji. Satu hal yang saya salut dari Suci, yang mungkin tidak begitu dimiliki Rahmi; keberanian untuk mengkritik. Jika ada hal-hal yang kurang jelas, khususnya soal dana, ia tak akan segan-segan menanyakannya hingga jelas. Ia juga mampu merangkul teman-temannya dengan baik. Jika pertemanannya diibaratkan sebuah genk, maka dia lah kepala genk-nya. Hanya saja, ia tidak sekuat Rahmi dalam memegang prinsip dan cita-citanya.

Sekilas, hal-hal positif dan negative yang ada dalam diri mereka adalah yang juga saya miliki. Selayaknya husnul, jika salah dididik, maka akan dipastikan mereka akan sukses menjadi kepala mavia paling besar.  Saya sangat sadar, semangat bertahan hidup dan memimpin itu tidak dimiliki semua orang. Sehingga, jika mereka diberikan kesempatan dan dididik dengan baik, saya sangat yakin mereka akan mampu menjadi seseorang yang jauh lebih keren dari Husnul. Itulah kenapa, saya jadi pusing, deg-degan, khawatir, cemas, dan berusah keras mencari jalan keluar untuk bisa menadapatkan beasiswa mereka. Karena kuliah keduanya menjadi hal yang sangat spesial dan penting bagi saya pribadi.

Tawa mulai mengenalkan diri…

Saat itulah, di tengah semua kekhawatiran itu, saya mendapatkan surat undangan ke Istana negara. Meski tidak memberikan solusi yang memadai, dua hari menjadi bagian dari Pelita Nusantara adalah berkah tersendiri.

Karena di sana saya berjumpa sosok sehebat ibu Jumilah dari Lombok Barat, yang meski hanya mengenyam pendidikan sampai kelas 1 SD, tapi beliau mampu mendirikan sekolah dan mengajari anak-anak membaca padahal dulunya ia adalah seorang yang buta huruf. Ada juga pak Azil dari Sulawesi barat yang mampu mengubah batu karang mati mejadi hutan Mangrove, bahkan hingga 68 hektar dan masih banyak lagi bapak-bapak dan ibu-ibu keren bertitelkan ‘Pelita Nusantara’ yang bergerak dalam segala keterbatasan, namun sukses membawa perbaikan dan pembangunan untuk masyarakat sekitar.

Taukah kalian teman, membaca biografi dan bertemu orang sehebat ini betul-betul menampar sisi pesimis saya. Saya yang diberi kesempatan mengenyam pendidikan hingga jenjang S1 tentu seharusnya bisa melakukan sesuatu yang lebih hebat dari mereka semua. Bukannya berfikiran sempit dan mengeluh. Seharusnya saya yakin ‘selama Allah mengijinkan, tidak aka nada yang bisa menghalangi, apalagi untuk sebuah niat baik.’ Semangat seperti ini betul-betul seperti obat bius bagi saya, yang akan dengan suksesnya meracuni keputus-asaan yang tak jelas itu.

Karenanya, yuk semangat adik-adik! Future is ours! Hanya tergantung macam mana kita meminta dan merayu Allah. hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published.