Friday , 15 December 2017
Home » CATATANKU & TPMT » We are Family
We are Family

We are Family

Jika ada yang bertanya kepada saya, kenapa saya bersikeras membangun TPMT? Maka jawabannya adalah sangat sederhana; I want to be an education family. Kenapa saya ingin membangun sebuah keluarga pendidikan? Karena saya sadar, banyak sekali adik-adik di daerah saya yang punya potensi, tapi sering gagal bercita-cita karena terhambat faktor kekurangan finansial keluarga. Lebih parahnya, tidak semua keluarga sadar dan peduli akan pendidikan mereka. Saya ingin membangun sebuah keluarga yang antar anggotanya saling mendukung dan menyayangi untuk mendidik sesama demi keberhasilan bersama. Yang besar menyayangi yang kecil, yang kecil menghormati yang besar, yang besar dan yang kecil saling bekerjasama untuk sama-sama sukses.

 

Karena Kami Keras Kepala

Niat awal itu terinspirasi dari keluarga saya sendiri. Tanpa ingin membesar-besarkan, keluarga kami adalah keluarga pejuang, yang harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan pendidikan dan kesempatan berguna bagi sesama. Ayah yang berprofesi sebagai petani dan amak yang hanya guru kelas 1 SD tentu akan sangat kepayahan membesarkan 9 anak. Mungkin membesarkan anak masih termasuk perkara mudah, tapi mendidik ke-sembilan-nya menjadi manusia yang mandiri dan berguna bagi sesama bukanlah perkara enteng, apalagi jika ditemani kemelut keuangan keluarga yang sangat jauh dari kemapanan.

Dari 9 bersaudara, selaku anak bungsu, saya sering ‘dituduh’ sebagai yang paling beruntung. Ketika saya lahir, keuangan keluarga saya sudah termasuk mendingan, karena amak sudah pegawai tetap, abang dan kakak-kakak saya juga sudah mulai bekerja, meski masih kecil-kecilan. Namun, meski begitu, Seingat saya, saat kecil saya tidak pernah punya mainan kecuali satu boneka Barbie dan beberapa gambar ‘bongkar pasang.’ Itupun keduanya saya dapat setelah menangis mati-matian saat menemani amak berbelanja mingguan di Pekan Rabu Sibreh. Amak pun selalu bangun jam 4 pagi untuk membuat kue, memasak nasi goreng, yang nanti akan dibawa ke sekolah untuk di jual di kantin sekolah. Dari sana lah jajan harian kami dapat. Saya juga ingat, ketika pulang dari Pekan Rabu, setiap makanan dan buah yang dibeli pasti dijatahin sama amak, agar setiap kami dapat menikmatinya.

Soal baju baru pun sama, kami hanya punya baju baru setahun dua kali, bahkan jika keuangan keluarga sedang menipis, kami hanya punya satu baju baru dalam setahun. Baju itu pun dibeli jauh-jauh hari sebelum lebaran agar harganya murah, di tempat yang itu-itu saja (yang amak sudah biasa berlangganan, hingga diperbolehkan berhutang). Jadi tak heran, beberapa hari sebelum lebaran, hati saya sudah sangat kasmaran. Pulang sekolah liat baju baru, dicoba sekali, taruh lagi. Begitu seterusnya, hingga hari lebaran tiba. Namun, ketika hari lebaran tiba, saya harus sedikit berdiam diri saat teman-teman bertanya “padum boh bajee baroe uroe raya nyoe?” (berapa banyak baju lebaranmu?) Mereka pasti menjawab minimal 2, bahkan ada yang dapat 5 baju baru setiap lebaran. Terkadang saya juga usil, biar terlihat keren, saya hitunglah semua baju lebaran saya dalam 5 tahun terakhir (yang masih muat, karena badan saya irit sekali berkembangnya, hehe), jadi samalah jumlah baju lebaran saya dengan yang lain.

Intinya, saat saya kecil, saya merasa keluarga saya termasuk jajaran keluarga miskin di lingkungan saya. Tetapi abang-abang dan kakak-kakak sering berkata kalau beberapa tahun sebelum saya lahir, kehidupan keluarga kami sudah lebih baik dari sebelumnya. Dalam artian, saat mereka kecil, perjuangan yang harus mereka hadapi tentu lebih berat, amat sangat berat jika dibandingkan saya. Saya sangat ingat, amak pernah berkata ketika kakak dan abang saya masih kecil, kawan amak yang juga seorang guru, pernah mengejek amak kalau anak amak akan ada yang menjadi sampah masyarakat. Hal itu karena ia melihat anak amak yang rame dan keadaan keuangan keluarga yang sangat tidak mencukupi. Jangankan untuk pendidikan, untuk makan aja susah.

Hanya saja, satu hal yang kami sangat kaya. Kami kaya tekad dan keras kepala dalam mengejar cita-cita. Meski miskin, amak tidak pernah berputus asa dengan pendidikan kami. Amak mengajar di sekolah, membuat kue, berhemat super hebat dalam hal penampilan, dan menabung untuk biaya sekolah kami. Ayah juga sama, meski petani, beliau juga sering bekerja serabutan kesana kemari untuk membiayai sekolah kami. Ayah bahkan pernah bekerja membuat ‘sawah ladang’ baru dengan membersihkan tanaman-tanaman besar dekat rawa-rawa, demi pendidikan kami.

Begitu juga dengan abang-abang dan kakak-kakak. Sejak kecil mereka juga sudah bekerja untuk membantu biaya sekolah. Abang saya yang pertama bekerja menanam palawija sejak usia SMA bahkan hingga kuliah. Jika teman-teman yang lain memilih jalan-jalan saat libur kuliah tiba, ia akan memilih pulang dan bekerja. “kita harus sadar diri. Kawan-kawan ke kampus dengan memakai baju yang bermerk dan berhura-hura saat libur, kita tidak bisa, yang kita terima keadaan itu. Tapi kita tidak boleh minder, kita harus tetap percaya diri dan berusaha keras mengejar cita-cita kita.” Itulah prinsip yang selalu sukses membawanya mengejar mimpi dan menjadi teladan bagi kami.

Kakak yang pertama juga sama. Meski tidak bekerja seperti abang, ia juga tidak pernah merasakan serunya hura-hura masa muda, karena hampir seluruh waktunya digunakan untuk menjaga kami yang kecil-kecil sementara amak dan ayah bekerja di sawah. Ngoh dan Lem (abang yang ketiga dan keempat) juga melakukan hal yang sama dengan abang pertama untuk bisa sekolah. Sementara Adun (abang yang kelima) memilih membuka usaha tambal ban sepeda kecil-kecilan sejak ia SMA. Namun, baru ketika Bang Cut, Anda, Bang Rayeuk (abang ke-6, kakak ke-7, dan abang ke-8) lahir, keuangan keluarga sudah mulai membaik, namun semuanya masih giat bekerja membantu amak dan ayah di sawah. Hal paling miris yang dialami mereka adalah saat hujan lebat membanjiri sawah di musim panen. Sawah ladang kami tergenang, padi tenggelam. Meski tengah malam, mereka terpaksa membuat rakit pohon pisang, berlayar ke sawah dan mengutip pokok padi itu satu persatu. Inilah kenapa kakak pertama saya sering bilang “nyoe peugah soal susah hidup, kamoe katroe. Mandum model susah ka abeh kamoe rasa” (bicara soal kesusahan hidup, kami sudah kenyang. Semua model kesusahan sudah pernah kami rasa).

Itulah keluarga kami, meski tidak berpunya, soal pendidikan mereka tak pernah setengah-setengah. Sejak kecil, meski mainan saya tak punya dan baju baru, tapi saya selalu diijinin untuk belajar di TPA, les mengaji, les komputer, dan les berbagai pelajaran yang pastinya semuanya mengeluarkan biaya. Saya menulis ‘diijinin,’ karena semua les itu adalah keinginan saya sendiri, dan amak menyetujuinya dengan baik, meski amak kawan-kawan saya yang jauh lebih mapan dari kami tak menyetujuinya. Begitu juga dengan abang-abang dan kakak-kakak saya, ketika mereka mulai bekerja, berpenghasilan, mereka tak pernah melupakan kami yang masih kecil. Sejak saya di RIAB, hampir semua ditanggung mereka. Namun, amak dan ayah selalu mengingatkan kami yang kecil, “jangan pernah meminta.” Pelajaran ‘menyayangi yang kecil dan menghormati yang besar’ inilah yang selalu saya petik dari keluarga saya. Semangat ini selalu ingin saya bagi dengan adik-adik di daerah saya. Karena saya dan mereka berasal dari latarbelakang sejarah yang sama. Jika saya bisa, mereka apalagi, pasti lebih bisa. Mungkin, kelebihan kami dari keluarga yang lain adalah karena kami keras kepala dan cuek. Keras kepala dalam mengejar cita-cita, cuek pada hal-hal yang perlu cuek, dan peduli pada hal-hal yang perlu peduli.

 

Now, we are Family…

Membangun sebuah lembaga pendidikan non-formal berasaskan kekeluargaan dan bersistemkan sukarelawan tentu tidak lah mudah. Selain butuh sokongan besar dari semua pihak, juga butuh ikatan cinta kasih antar sesama kami, selaku anggota dari keluarga itu sendiri. Inilah yang sulit dibangun, apalagi dengan faktor perkembangan generasi muda yang sudah jauh dari nilai-nilai kekeluargaan. Berbicara soal memupuk kasih sayang, tentu hal utama yang harus dilakukan adalah menyayangi, baru disayangi.

Sejak awal, rasa sayang inilah yang selalu saya pupuk kepada adik-adik di TPMT, khususnya untuk pengurus baru yang memang jauh lebih muda dari saya. Mereka lah yang nanti akan melanjutkan semangat perjuangan kami ke depan. Karenanya, sudah sejak dari sekarang saya mulai membagi kader, menyiapkan calon pengganti direktur, wakil direktur, bendahara, dan pengurus lainnya. Sejak dari sekarang adik-adik pengurus sudah mulai dihargai dengan diberikan tanggung jawab sebagai pemimpin, yang mampu memimpin adik-adik peserta didik, juga mampu menjaga hubungan yang baik dengan relawan dan segenap masyarakat yang mendukung TPMT.

Jujur, banyak lika-liku dalam membangun pola ini. Bahkan, di masa awal saya merekrut adik-adik yang masih SMA dan SMP menjadi pengajar dan pengurus di TPMT, banyak sekali pihak yang protes dan memandang itu sebagai keputusan buruk dan sia-sia belaka. Awalnya saya juga khawatir dengan keptusan saya sendiri. Apalagi ada yang memprediksi TPMT akan rusak karena pengurusnya masih sangat labil, masih remaja tanggung. Namun, saya hanya bisa diam, berdoa dan berusaha membuktikan kalau remaja usia SMA dan SMP, jika diberikan kepercayaan dan dibimbing, mereka bahkan bisa berkembang jauh lebih baik dari kita-kita yang sudah tua ini.IMG-20140203-01895

Alhamdulillah, tepat di pergantian usia saya, mereka membuktikan kalau perasaan kekeluargaan itu mulai ada. Saya sangat surprise saat mereka dengan serempak menyanyikan lagu ulang tahun untuk saya dan Faishal (pengurus bagain humas) yang juga ultah di hari yang sama. Kue ulang tahun yang ada kanggurunya, nyanyian yang serempak, ketulusan senyum dan kebersamaan itu membuat saya haru. Saya memang cengeng orangnya, apalagi kalau ada hal-hal yang menyangkut perasaan. Saya betul-betul menangis dan bedo’a besar-besar hari itu. Saya menangis karena bahagia, melihat kekompakan dan kebersamaan selayaknya sebuah keluarga. Lucunya, mereka juga ikutan menangis mengaminkan semua do’a saya. hehehe.

IMG-20140203-01901

Ah, semoga perasaan ini selalu ada, berbuah kebaikan dan perbaikan untuk sesama. Aamiin.IMG-20140203-01903

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.