Friday , 19 January 2018
Home » CATATAN PIKIRAN » Laptop Rexona dan Refleksi 22
Laptop Rexona dan Refleksi 22

Laptop Rexona dan Refleksi 22

 

 

Dua hari yang lalu, tepatnya tanggal 3 february adalah one of my turning points. Genap sudah angka 22 menemaniku setahun ke depan. Sebenarnya tidak ada yang begitu menarik dengan pergantian angka itu, khususnya bagi keluarga saya. Sudah sejak kami kecil, perayaan ulang tahun tak pernah membudaya di keluarga kami. Amak dan ayah menganggap itu adalah mubazir, karena selain dianggap tidak begitu sejalan dengan Islam, faktor finansial keluarga yang berada dibawah garis mapan juga membenarkan asumsi mereka. Jadilah kami tidak pernah merayakan, bahkan seringnya lupa akan hari pergantian usia kami itu. inilah alasan yang jangankan membuat saya mengingat ulang tahun kawan-kawan, abang-abang, dan kakak saya, ulang tahun sendiri saja saya sering lupa.

 

Hanya saja, setelah media sosial hadir, hari penting itu kembali unjuk gigi. Meski tetap tanpa perayaan dan embel-embelnya, minimal ia menjadi titik balik untuk saya kembali bertanya kepada diri sendiri: Untuk apakah saya hidup? Apa yang telah saya lakukan dan kenapa? Apa yang akan saya lakukan dan kenapa? Tiga pertanyaan ini tak pernah absen dari proses pergantian angka itu, dan selalu membuat saya memilih menjadi sleeping beauty untuk sehari penuh, selalu. Saya akan berdiam diri di rumah, sehari penuh, hanya untuk bertanya kepada diri sendiri. Namun, baru setahun terakhir, setelah bertemu dua bapak luarbiasa, saya betul-betul dapat menjawab pertanyaan itu dengan sedikit penuh makna.

***

Ini adalah hari pertama saya di kampung Miruek Lam Reudeup, tempat saya dan kawan-kawan akan mengabdi selama 40 hari dalam program Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM). Ini adalah program wajib bagi mahasiswa tahun akhir seperti saya. Dalam program ini, saya bergabung dengan 7 mahasiswa lain dari jurusan yang berbeda-beda. Seperti biasa, setelah dijemput oleh kepala desa di kantor camat, kami dibawa ke rumah ibu asuh, diperkenalkan sejenak dengan segenap keluarga, kemudian kami menata segala keperluan, dan melanjutkan dengan berbenah membantu membersihkan perkarangan rumah ibu asuh.

 

Supaya kegiatan kami mudah dan berjalan lancar, kami membagi tugas; ada yang bertugas menyapu, mencangkul rumpur liar, mencabut rumput, mengutip sampah, dan lain sebagainya. Kami melakukannya dengan seksama bersama-sama. Saat itulah tiba seorang bapak, kuterka umurnya diatas angka 40. Rambut putih dan gigi yang sudah pamit beberapa menjadi patron penilaianku.

 

Beliau langsung duduk di teras dekat kami bekerja. Ia tampak ramah, banyak bertanya ini dan itu. Heny dan Nisa yang bertugas dekat dengan teras menjawab pertanyaan si bapak dengan sama baik dan ramahnya. Awalnya semua berjalan lancar. Namun, saya sedikit bingung dengan penjelasannya tentang ‘ia pernah bekerja di lhokseumawee.’ Ketika dikomfirmasi, di lhoksemawee di mananya oleh Heny yang memang tinggal di dekat sana, ia malah menjawab di sigli. Sigli kog di Lhokseumawee ya? Sekilas saya memperhatikan beliau; dari caranya ia berbicara, kecanggungan dalam tersenyum, ia malah tampak seperti anak SD yang sedang caper (cari-cari perhatian). Sepertinya ada yang lain dengan bapak yang satu ini, tapi saya tidak tahu apa, tapi saya memilih melanjutkan mencabut rumput ketimbang berfikir negatif tentang bapak yang saya tau pun tidak siapa. Setelah pekerjaan kami selesai, dan beliau pergi, barulah kami tahu kalau beliau adalah adik ipar bapak kepala desa yang bernama Ali (anggap saja begitu ya, saya lupa karena, hahaha).

 

Selepas Isya, kami berkumpul di teras rumah kembali. Selain untuk menentukan siapa ketua dan struktur kelompok kami, kami juga membahas tentang program apa yang akan kami lakukan. Saat itulah saya mendengar istilah Laptop Rexona. Kawan-kawan menyebutnya dengan mantap, dan lantas mengakak lepas tak kuasa menahan lucu. Saya bingung, karena terlalu fokus dengan rumput tadi siang, ada momen yang saya lewatkan.  Dikisahkanlah…

 

Setelah ia bercerita tentang sigli yang di lhokseumawee, kawan-kawan yang menyimak kisah pak Ali mulai berfikiran sama denganku, curiga akan ada sesuatu yang tak beres. Lantas ia melanjutkan kalau ia punya laptop yang sangat bagus saat kuliah. Sebagai pertimbangan keramah-tamahan, kawan-kawan bertanya merek apa Laptopnya. Ia menjawab Laptopnya merek Rexona. Laptop Rexona? Bukannya Rexona itu merek deodorant? Mereka melongo, saling memandang satu sama lain, dan sekuat tenaga menahan tawa. Kesimpulan pun ditarik, ada sesuatu yang lain dari Pak Ali.

 

 

Mulai saat itu kami sering menggunakan istilah Laptop Rexona untuk mencari hiburan ditengah kepadatan aktifitas KPM. Mulai saat itu pun, saya menjadi penasaran dengan beliau. Saya mencuri-curi kesempatan memperhatikan beliau dengan sesksama. Ternyata memang benar, dari segi tingkah, ia tampak seperti remaja usia SD yang sedang kasmaran. Polos dan ceria apa adanya. Jika pagi hari, ia berpenampilan rapi laksana pegawai kantoran, lengkap dengan baju coklat ala pegawai. Pulpen berderet rapi dalam kantong bajunya, kuterka ada sekitar 5 pulpen boxi berbagai warna bertengger di sana. HP pun tak kalah sedikit. Ini baru kali pertama saya melihat orang memiliki ‘kantong HP’ dua, berdempet sekaligus, di pinggang celananya. Sepatu? Jelas necis sekali. Kalau siang dan sore hari, pulpen dan baju Dinas absen. Tapi celana hitam, baju kotak-kotak ala jokowi, dan HP masih setia menemaninya berkeliling kampung dengan motor merek Honda. Inilah kenapa, setiap melihat beliau, setiap mengingat Laptop Rexona, kami selalu gagal menahan tawa. Lucu dan menggemaskan.

 

Keesokan harinya, saat kami diundang ke rumah pak Kechik lah kami mengenalnya lebih jauh. Saat kami berkunjung, beliau juga di sana. Seperti biasa, senyum geli kami menyembul simpul tanpa bisa dikontrol. Apalagi kawan-kawan kami yang laki-laki berakting ria, sok serius menanyai kabar laptop rexonanya. Saat ia menjawab sungguh-sungguh, kami sekuat tenaga menahan tawa, hingga cekikan kecil-kecilan yang keluar. Namun, karena dilakukan bersamaan, dan titik fokus mata kami juga sama, Pak Kechik seperti menyadari tingkah ‘busuk’ kami. Ia lantas bercerita tentang Pak Ali yang ketika kecil terlahir dengan sangat baik. Namun saat beranjak remaja, ia mulai mengalami gangguan perkembangan. Tubuhnya terus tumbuh selayaknya orang biasa, namun perkembangan mental dan karakternya masih tetap seperti usia remaja, bahkan terkadang seperti murid sekolah dasar. Ia sangat polos dan baik. Sangking baiknya, jika ada orang yang meminta sepatu kulitnya yang memang mahal dibeli, ia akan dengans serta merta memberikannya begitu saja.

 

Meskipun demikian, “Bak mata Tengku gob nyan sangat mulia, geupah le tengku ureung-ureung meunoe adalah asoe syurga!”  (di mata ulama, beliau sangat mulia. kata para ulama, orang seperti Pak Ali adalah calon-calon penghuni surga).

***

Kata-kata inilah yang membungkamkan tawa kami seketika, khususnya saya. Kata beliau bukan saja membungkamkan tawa saya saat itu, tapi ia berhasil membungkamkan hati saya, hingga saat ini. Peristiwa itu tak pernah saya lupakan, hingga saat ini. Kenapa? Kenapa kami tertawa atas nasib pak Ali? Kenapa Pak Kechik berkata demikian? Kenapa kata-kata itu mampu membungkamkan saya seketika? Saat sendiri, saya selalu mencoba mencari tahu jawaban ini. Ternyata jawabannya tidak jauh lari, dari pertanyaan awal saya saat pergantian tahun. Kenapa saya (manusia) hidup? Untuk apa kita hidup?

 

Jika saya menjawab; saya hidup untuk tumbuh dewasa, belajar rajin, punya pekerjaan yang ‘ok punya dan menjadi jadi orang kaya raya. Tentu saya bisa tertawa melihat Pak Ali, karena saya pasti akan berfikir beliau tentu tidak punya kesempatan yang sama seperti saya.

 

Jika pun saya menjawab; saya ingin tumbuh menjadi wanita cantik, berjumpa laki-laki terbaik, menikah, punya anak-anak yang sholeh dan sholehah, dan menghabiskan usia dengan mengarungi kehidupan rumah tangga yang membahagiakan. Saya pun akan bisa tertawa melihat pak Ali. Karena jika kita berfikir secara logika, tentu beliau juga akan sangat sulit mendapatkan kesempatan seperti itu.

 

Tapi, jika saya bertekad; saya ingin tumbuh dewasa, menjadi orang yang berguna bagi sesama dan alam sekitar. Saya tentu tidak akan bisa tertawa asal saja terhadap pak Ali, karena beliau meskipun dengan berbagai kekurangannya, pasti juga mempunyai peran tersendiri yang membuat beliau berguna bagi sesama, yang pastinya hanya Allah yang tahu.

 

Lebih lagi, jika saya menjawab: Saya hidup untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah. Saya lebih tak punya hak sama sekali untuk menertawakan beliau. Selaku hamba Allah, saya dan beliau adalah persis sama dan setara. Jika saya punya kesempatan untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah, beliau juga punya. Dengan fakta demikian, berhak kah saya tertawa atas beliau? Sama sekali tidak.

 

Namun, bagaimana jika saya meminjam jawaban Bapak Ahmad (bapak 1 lagi yang akan saya ceritakan dikisah selanjutnya): Saya terlahir ke dunia ini sebagai manusia supaya saya bisa mengabdi dan beribadah kepada Allah, agar kelak saya bisa kembali berjumpa dengan Allah dalam surga. Masih adakah celah ‘memandang remeh’ kehadiran pak Ali ke dunia? Masih ada kesempatan untuk menertawakan beliau? Sama sekali tidak.

 

Bahkan untuk beberapa hal, saya harus memandang beliau dengan iri, karena betapa bersyukur beliau yang terlahir dengan kekurangan yang membuat dosanya tak terhitung, sehingga ulama langsung memotivasi keluarga beliau kalau orang seperti beliau adalah ahli surga. Bukankah seharusnya saya menangis malu melihat beliau yang dengan sikap baik, kepolosan dan keluguannya yang seperti anak-anak akan membawanya bertemu kembali dengan Allah di surga? Sementara saya? Jika saya mendapatkan hidayah Allah dan istiqamah memegangnya, mungkin saya akan berkesempatan yang sama dengan beliau. Tapi bagaimana jika tidak?

 

Jika ini adalah tujuan saya hidup ke dunia ini, pertanyaan selanjutnya, siapa yang lebih mulia? saya atau pak Ali? Tentu jawabannya adalah beliau. Kenapa juga saat itu dengan mudah saya tertawa geli melihat tingkahnya yang seperti anak-anak? Saya juga tak tahu. Pak Ali, terimakasih banyak untuk segala kepolosan dan keluguannya. Terimakasih banyak untuk pembelajaran berharga yang membuat saya selalu memandang semua orang berharga. Terimakasih untuk kehadirannya ke dunia, yang membuat saya semakin sadar, kalau tujuan hidup kita sangat sederhana; kita ada untuk mengabdi dan kembali.

 

Allah, Tuhan seluruh semesta, pemilik surga dan segala isinya, ampunilah segala dosa yang pernah dan melekat pada diri hamba sebanyak angka umur yang juga menemani. Allah, saya juga tahu, semakin bertambah usia, semakin berkurang pula umur yang saya punya. Namun, saya mohon satu hal, ya Allah tolong, di usia yang semakin tua, mohon dewasakanlah pemikiran dan kebijaksanaan hamba, agar semakin banyak manfaat yang bisa hamba berikan bagi sesama, agar hamba selalu dapat beribadah dan mengabdi kepadaMu. Sehingga kelak, ketika waktu hamba pulang tiba, hamba akan kembali pulang menjadi bidadari surga dan bisa berjumpa denganMu untuk mengucapkan “Terimakasih banyak karena telah pernah menciptakan saya sebagai manusia beserta segala pembelajaran dan sepaket berkah bernama hidup.” Allah ketika kelak, waktu pulang itu tiba, tolong ijinkan hamba pulang dengan membawa iman di hati, selayaknya do’a yang sudah lama dititipkan amak dan ayah dalam sebait nama, Husnul Khatimah. Aaamiiin.

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.