Friday , 15 December 2017
Home » CATATAN KEHIDUPAN » I Love Deadline
I Love Deadline

I Love Deadline

 “Dek minta tips dikit, biar jadi anak muda kreatif itu gimana sih ?” inilah sebuah pertanyaan yang membuat saya syok beberapa hari yang lalu. Karena jujur, saya amat sangat tidak kreatif jika dibanding teman-teman yang lain. Kalau disuruh nyanyi, suara saya sumbang. Disuruh nari, cengkok dan gerakannya enggak pernah pas. Apalagi di suruh melukis, wow, lebih tidak jelas lagi. Itulah kenapa, saya merasa kalau kemampuan seni saya itu sangat jongkok. Jadi kreatifitas saya sangat tidak memadai. Saya mencoba menghibur diri, mungkin, seni terbaik yang saya punya adalah seni berbicara. Itu pun kalau menurut pakar speaking dan speech, bicara saya masih sangat tidak fokus dan kecepatan. Hahaha.

Namun, kenapa juga saya ‘terkesan’ kreatif dan bisa mengejar banyak hal dalam waktu yang bersamaan? Sedikit saya membuka kartu. Husnul itu adalah tipe orang yang sangat SKS, alias Sistem Kebut Semalam. Jika ditanya kenapa nilai kuliah saya tinggi? Jawabannya adalah karena semalam sebelum midterm, tugas, final, dan lalin-lain, saya tidak pernah tidur. Saya belajar semalaman. Hasilnya ketika ujian saya bisa menjawab dengan baik, tapi selepas ujian, semua jawaban itu menetap di lembar jawaban. Alias tidak ada lagi yang tertinggal di kepala saya sedikit pun. Itulah kenapa, nilai TOEFL saya enggak tinggi-tinggi amat, karena TOEFL itu bukan ujian yang bisa dipersiapkan dalam waktu semalam. (pray for my TOEFL! Hiks hiks)

Intinya, saya paling tidak bisa belajar atau melakukan sesuatu sebelum dekat-dekat deadline. Semakin dekat deadline, semakin banyak idenya. Jujur, saya tau ini adalah kebiasan terburuk dari yang paling buruk. Karena akan sangat mengganggu kesehatan juga ketenangan hidup saya, dan orang sekitar, khususnya mamak saya. Beliau adalah orang yang paling gundah gulana melihat saya kalau mendekati ujian. Nasehat terbaiknya adalah “Kajak eh keudeh nyak. Bek dale kameu ulang, enteuk pungoe ladom nyan.” (Tidur sana nak! Jangan selalu belajar. Bisa-bisa gila kamu.” Padahal mamak saya tidak tahu, kalau tidak ujian, anaknya yang satu ini tidak pernah pegang buku. Hehehe. (Please jangan ditiru! Sama sekali jangan ditiru!)

Inilah kenapa, saya suka melakukan banyak hal. Karena semakin banyak yang dilakukan, semakin dekat deadline antara satu kegiatan dengan kegiatan yang lain. Semakin dekat deadline semakin produktif saya bekerja. Karena meskipun saya dikasih waktu satu tahun untuk persiapan melakukan suatu kegaiatan, saya tetap akan melakukannya sebulan atau bahkan seminggu sebelum kegiatan. Hal ini bukan karena saya merasa sok pintar, tapi saya sudah berusaha jauh-jauh hari untuk persiapan, namun tetap saja ide itu tidak mau keluar. Ia baru keluar ketika panik menghadapi deadline menyerang. Sayangnya, semakin panik saya menghadapi deadline, semakin saya ‘banyak lupa’ dan tidak fokus. Ketika lupa menyerang dan fokus buyar, artinya siap-siap gagal untuk seluruh kegiatan itu. Ini adalah bencana besar yang selalu menghantui kegiatan saya.

Namun, dua tahun yang lalu, saya berjumpa seorang kakak muallaf yang sangat professional. Sebut saja namanya An (dia tidak pernah mau dirinya dipublish). Ketika pertama kali mengunjungi TPMT, ia langsung bertanya banyak hal tentang perkembangan TPMT yang kebanyakan membuat saya gagu. Karena di usia TPMT yang waktu itu masih belum setahun pun, tentu banyak sekali kekurangan di sana-sini, khususnya soal administrasi. Tapi dia tidak mau tahu, dia ingin saya membenahinya segera. Dia berkata ingin ikut membantu TPMT dengan syarat saya dan teman-teman pengurus TPMT mau dan mampu bekerja secara professional.

Mulai saat itulah ia menjelma laksana mentor saya dan teman-teman di TPMT dalam hal professionalitas. Meskipun ia adalah orang yang keren dalam hal pekerjaan, ia juga orang yang sangat keren dalam hal berbagi dan peduli terhadap sesama. Hanya saja, ketika saya mengadu tentang kelelahan, banyak tugas yang belum siap, panik, dan berbagai keluhan lainnya. Ia selalu berkata “Banyak-banyak zikir husnul. Biarkan Allah yang bekerja dalam diri kamu.” Awalnya saya merasa ini orang kog sok alim sekali ya? Masak kita lapor soal pekerjaan dan kegiatan, ia malah suruh kita zikir. Tapi mengingat background pekerjaannya sebagai seorang arsitek dan desain interior yang sangat hebat,  tentu ucapan itu bukan hanya sebatas pemanis bibir dan sok alim belaka. Karenanya, dengan coba-coba, ketika panik menyerang saya mulai berzikir.

Lantas apa yang terjadi? Adakah saya mendapat mukjizat secara tiba-tiba macam di cerita film-film Religi begitu? Tidak sama sekali. Saya merasa “kog biasa saja ya? Kenapa juga disuruh berzikir?” Tapi karena penasaran, ketika saya betul-betul pusing mikirin deadline, saya tetap berzikir. Kadang-kadang cuman subhanallah aja yang saya sebut, kadang Lailahaillah, kadang astagfirullah, tergantung mood. Kalau sempat paniknya berlebihan, semua saya sebutin, hingga bersalawat kepada Baginda Rasulullah juga.

Ternyata, lama kelamaan saya baru sadar. Setiap kali saya mengerjakan sesuatu sambil berzikir, pekerjaan itu pasti terlihat lebih mudah dan selesai dengan cepat. Saya heran, apakah ini mukjizat ya? Namun, saat saya telaah, ternyata musuh terbesar saya adalah panik dan fokus buyar. Jika keduanya bersatu, maka lupa adalah jawaban akhirnya. Ketika lupa, pekerjaan gagal. Namun, saat saya melakukan sesuatu sambil zikir, saya merasa hati saya lebih tenang. Karena hati lebih tenang, fokus saya tetap on di satu pekerjaan saja, pekerjaan yang sedang saya lakukan. Karena fokus bagus, ide mudah keluar. Karena ide mudah keluar, masalah cepat selesai dan  pekerjaan pun kelar.

Inilah kenapa, saya langsung menjawab pertanyaan di atas dengan “Banyak-banyaklah berzikir! Hehe.” Mungkin sebagian teman akan memandang saya sok alim sekali, (dipikir-pikir, lebih baik sok alim dari pada sok kapir ya! Hihihihi). Tapi begitu lah adanya. Jujur, bagi saya pribadi, zikir itu ibarat panic therapy. Saat panik hilang, mau tidak mau, ide-ide yang terlihat kreatif itu pun muncul. Saya pun jadi merasa lebih dekat dengan Allah, yang ketika saya menginginkan sesuatu, rasanya kog Allah itu baik sekali sama saya ya. Ada saja jalan yang dikasih, dari arah yang seringnya sama sekali tidak saya sangka-sangka.

Karenanya, bagi teman-teman yang punya pola kerja sama seperti saya, alias yang suka SKS. Bisa mencoba berzikir sesekali sambil bekerja dan berkegiatan. Semoga mendapat ketenangan dan ide-ide kreatif. Semoga saja sharing ini bisa berguna sebagai amal jariyah buat saya dan kakak An yang pernah ngajarin saya. semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah swt. Aamiin. Selamat mencoba! 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published.