Friday , 15 December 2017
Home » CATATAN KEHIDUPAN » Mari Bantu Diri Sendiri!
Mari Bantu Diri Sendiri!

Mari Bantu Diri Sendiri!

“Membantu orang lain seyogyanya adalah kita sedang membantu diri sendiri.” Begitulah kutipan yang selalu tergiang di kepalaku saat mengingat kata Volunteer atau relawan. Kata itu kubaca dari buku “Berbagi Hati” Pak Houtman Zainal Arifin, seorang mantan Vice president City Bank yang sempat membawahi Asia Pasific dalam karir professional beliau. Meskipun begitu, ia juga seorang ayah bagi 100an lebih anak yatim yang  dirawat di rumahnya sendiri. Beberapa di antara mereka diasuh sejak usia bayi. Semuanya disekolahkan dengan baik, bahkan ada yang  hingga dinikahkan. Mereka dirawat betul-betul seperti anak sendiri, tanpa perbedaan, tanpa pamrih, apalagi publikasi yang mencari warna-warni nama baik.

Saya berani berkata begitu, karena saya sudah melihat sendiri dengan mata kepala sendiri bagaimana tulus dan baiknya Istri beliau menjaga semua anak-anak itu. Jujur, saya tidak sempat berjumpa Pak Houtman, karena akhir 2012 beliau telah dipanggil oleh Yang Mahas Esa. Namun, Allah memberkahi saya untuk berjumpa dan belajar banyak dari Istri beliau, Ibu Sri Rejeki yang biasa dipanggil mama oleh anak-anak tersebut. Menginap di rumahnya, melihat sendiri dinamika keseharian beliau dan anak-anak, sungguh menggetarkan segala sisi kemanusiaan saya.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan berkisah banyak  tentang Pak Houtman dan Bunda Sri, karena beliau tidak mengijinkannya. “Bapak takut ria” begitulah kisah Bunda menjelaskan alasan mengapa saya tidak dijiinkan menuliskan kisah tentangnya. Saya paham dan mengerti akan hal itu. Karenanya, dalam tulisan ini saya hanya ingin berbagi tentang prinsip kepedulian yang beliau bagikan dalam bukunya yang saya sebutkan di atas.

Lumrah, kebanyakan kita sering berkicau tentang teori berbagi dengan sesama dalam ranah ucapan semata. Namun sayang, banyak sekali yang enggan mempraktekkannya dalam tindakan nyata. Easy said than done! Ini adalah hal yang wajar jika dilihat dari teori ‘self-egoism’ yang ada pada tiap diri manusia. Alasan takut rugi, takut susah, repot dan hal buruk lainnya sering menjadi pertimbangan untuk mengurungkan niat baik tersebut. Itulah mengapa Bapak menyemangati orang lain untuk saling berbagi dengan kata “membantu orang lain sebenarnya adalah membantu diri sendiri!” Perkataan tersebut bukanlah suatu hal fiksi yang asal ucap. Beliau betul-betul menjelaskan dengan detail pengalaman beliau yang dengan membantu orang lain, hidup beliau dan keluarga sering dimudahkan dan berjalan mulus sesuai keinginan.

Mungkin, sebagian orang akan mengatakan kalau kata-kata itu terkesan hanyalah fatamorgana pemanis saja. Tapi tidak bagiku. Jujur, TPMT dengan anak-anak yang lucu dan rame itu adalah laboratorium sosial dimana saya betul-betul menjadi saksi kebenaran ungkapan itu. Kelulusanku yang tergolong cepat serta cukup baik dan kepergianku ke Australia adalah contoh konkrit keberadaan teori itu. Padahal jujur, saya bukanlah mahasiswi yang tergolong pintar dan hebat.

Jika ditilik dari hal yang lebih abstrak, tentu aku tidak tahu harus bagaimana lagi menjelaskan berapa banyak pertolongan, pelajaran, dan kebahagiaan yang kudapati semenjak kebersamaan di TPMT terbangun. Di sini, di ranah “proyek thank you” ini, saya belajar begitu banyak hal. Bertemu, berkenalan, berteman, dan belajar dari begitu banyak orang. Bahkan beberapa di antaranya menjadi sedekat saudara kandung,  suka duka kehidupan telah kami bagi bersama, tanpa pamrih, cela maupun puja. ‘Membantu orang adalah membantu diri sendiri’ adalah benar adanya, nyata kurasa. Begitu juga pengakuan dari beberapa relawan dan pengurus TPMT.

***

Parodi dibalik Panggung berbagi!

Lucunya, terkadang makna ‘membantu orang adalah membantu diri sendiri’ ini sering diartikan secara harfiah yang membabi buta. Dimana, niat membantu sesama, berbagi untuk kebaikan, sering di’pleset’kan untuk tujuan dan cita-cita pribadi yang sangat picik. Dengan baliho publikasi diri yang terpajang di berbagi tepi, tentu saya tidak perlu menjelaskan secara terperinci tentang hal ini. Teman-teman pasti sudah lebih mengerti. Bahkan sebelum tulisan ini kubagi, teman-teman sudah jauh lebih tahu tentang itu.

Hanya saja, fenomena tersebut mengingatkanku akan kisah seorang sahabat. Ia adalah sahabat yang sangat luarbiasa. Ia mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk mengasuh dan mendidik anak-anak dengan kemiskinan moral dan finansial di salah satu pesisir pantai Banda Aceh dan sekitarnya. Ia mendedikasikan waktu dan pikirannya untuk membantu anak-anak itu dengan membangun sebuah komunitas belajar di sana. Komunitas itu diperuntukkan untuk membina dan mendidik anak-anak tersebut agar kembali semangat dalam belajar dan meninggalkan kebiasaan buruk mereka, yang sering mengemis dan bahkan ada yang mencuri.

Karena kisah kehidupan anak-anak tersebut yang memprihatinkan, yang punya nilai jual tinggi di media (ketimbang kisah ‘anak miskin daerah pedesaan” seperti anak-anakku) maka berbodong-bondong lah orang yang mendekati komunitasnya dengan alasan ikut berbagi. Awalnya, ia menyambut senang semua niat baik itu. Toh, orang ingin berbagi, tentu harus kita dukung dan fasilitasi. Mungkin begitulah prinsip hidupnya yang baik. Namun, malang menimpanya saat bulan suci Ramadhan semakin dekat. Dimana semakin banyak orang yang berkompetisi dalam opera berbagi. Ada yang membuat acara besar-besaran di sana. Ada yang menyumbang begitu banyak hal, bahkan ada yang sampai mengundang media untuk meliput semua kegiatan.

Saat itu, aku hanya melihat fenomena itu dari jauh. Karena dengan kesibukanku mengurusi anak-anak di TPMT, membuatku tidak sempat ikut bergabung dalam segala kegiatan mereka. “Di sana sudah rame yang bantu, di sini, tanpa keberadaanku para pengurus akan kebingungan, karenan sistem TPMT belum sekuat komunitas mereka.” Begitulah aku sering menghibur diri akan kealpaanku dari kegiatan berbagi di komunitas tepi pantai itu. Aku tak tahu apa yang terjadi, karenanya, aku ikut bahagia saja melihat perkembangan komunitas yang sevisi denganku itu. Aku ikut berbahagia melihat perkembangan kegiatan belajar-mengajar untuk adik-adik di sana, yang semakin rame dan terkenal.

Aku masih ingat saat itu, dengan setulus hati aku mengucapkan kebahagiaanku pada sang sahabat, tentang betapa banyak kegiatan, pengajar, dan murid yang mereka punya. Membuatku lebih bersemangat untuk terus berusaha lebih giat lagi dalam mengembangkan TPMT, dengan mencontohi kekuatan semangat mereka. Namun, aku terkejut bukan kepalang saat tahu kalau sebagian besar dari kegiatan itu bukanlah di bawah koordinasinya . Aku bingung. Dijelaskanlah olehnya,  ada beberapa teman yang lain, yang awalnya mengaku simpati dan ingin ikut mengajar bersamanya di bawah naungan komunitasnya, sebut saja komunitas Mari Peduli (MP; bukan nama asli) tapi, beberapa waktu kemudian, para kawan tersebut beralih visi.

Mereka Mengambil kesempatan atas nama komunitas MP, menarik waktu belajar anak-anak yang pada dasarnya sudah fix di MP, untuk kepentingan kegiatan mereka sendiri. Ada yang atas nama bakti sosial, ada yang untuk kepentingan keindahan CV masing-masing, bahkan ada yang dengan teganya mengaku sebagai penggagas awal dari kegiatan sosial tersebut dan mengundang media untuk meliput semua kegiatan tersebut. Sedangkan sang sahabat dan kawan-kawannya? Mereka hanya dikacangi, seolah mereka pemain pendukung di kegiatan sosial tersebut. “Bukan berarti saya ingin terlihat keren, tapi saya tidak suka orang-orang membawa-bawa nama kegiatan kita untuk tujuan pribadi, dan mengganggu kegiatan yang sudah kita punya.” Jelasnya pilu.

Saat itu aku seperti tersedak besi. Aku tak percaya akan apa yang kudengar. Namun, lambat laun aku mengerti, tentu dengan memperhatikan sendiri peristiwa tersebut. Dimana, setelah hiruk pikuk “parodi berbagi” berkedok bulan Suci itu selesai, redam lah semua publikasi. Kegiatanya pun senyap. Tinggal lah sang sahabat dan teman-temannya yang kebingungan. Kebingungan mengatur ulang sistem dan pendekatan dengan anak-anak, yang  karena sudah sering diimingi bantuan financial yang banyak, mulai malas dan enggan lagi belajar jika tidak diimingi hal-hal serupa.

Aku tahu, sahabat yang menjadi penggagas ‘yang sebenarnya’ dari kegiatan di MP itu tentu tidak berniat mengumbar aib sesama teman. Namun, itu semua hanya sebagai pelajaran untukku yang jauh lebih muda darinya, yang bergerak pada kegiatan dan visi yang sama, agar lebih berhati-hati. Agar tidak ada yang mempergunakan niat baik kita untuk memuluskan jalan pribadi yang berbalut materi itu. Bahkan, hingga tadi siang, aku masih mendengar pesan yang sama, dari teman yang berbeda tapi tahu tentang peristiwa itu, dengan “sukses dan semangat terus! Semoga enggak ada yang klaim dan cari nama disitu ya!”

Aku terkejut. Mengapa kata-kata penyemangatnya sinis begitu. Namun, lambat laun aku teringat kisah sang sahabatku dulu. Aku tersadar, bahwa dalam ranah ‘voluntary’ yang seharusnya berbasis kebaikan dan atas azas kemanusiaan, juga terdapat begitu banyak parodi pencitraaan diri.

Mungkin bagi sebagian orang yang membaca tulisan ini akan merasa kalau tulisanku terlalu kasar. Tapi menurutku akan lebih kasar mengambil alih usaha orang lain menjadi milik pribadi, apalagi jika usaha awal itu memiliki visi untuk kebaikan bersama dan memiliki kegiatan yang lebih baik ketimbang yang kita ambil alihkan.

Mulai saat itulah, aku yang dulu terlalu polos dan lugu menjadi lebih berhati-hati. Kejadian itu juga yang membuatku menjadi karakter yang lebih keras, enggan percaya orang begitu saja, dan lebih teliti dalam menilai situasi dan kondisi. Itu juga yang membuatku dan kawan-kawan berani mengambil keputusan “kita tidak butuh banyak relawan, tapi yang kita butuh adalah orang-orang yang komitmen dalam berbagi dan mendidik atas nama kebaikan bersama.” Saat itulah kami mulai memilih untuk tidak begitu fokus pada publikasi kegiatan yang bisa berbias tebar pesona, tapi lebih memusatkan perhatian pada pengembangan kulaitas pengajaran dan pendidikan di TPMT, demi masa depan anak-anak.

***

Oleh karena itu, niat awal berbagi dan segala kegiatan voluntary harus jelas dan betul, untuk kepentingan bersama. Bukan untuk kepentingan pribadi! Soal kita mendapat untung dari berbagi dengan sesama, anggap saja itu sebagai bonus dari Allah yang selalu menjajikan “siapa yang membantu orang lain maka akan dibantu oleh Allah.”

Hal ini karena, terkadang, berbagi dengan niat kepentingan pribadi malah akan berakhir rugi yang tiada terkira. Jika pun tidak rugi secara materi, secara “hikmah kehidupan” dan hubungan sosial yang seharusnya terjalin baik, menjadi rusak, tak tergapaikan. Lebih parahnya lagi, jika niat berbagi tidak dilandasi pada visi untuk kepentingan bersama, tak jarang kita lihat malah berakhir dengan kerusakan dan kemudharatan yang lebih besar bagi orang yang ingin dibantu tersebut.

Karenanya, mari kita bantu diri kita sendiri, untuk membantu orang lain dengan sepenuh hati, demi kepentingan bersama, berlandaskan niat karena Allah. Dengan harapan, bantuan kita dapat berguna bagi orang yang dibantu, bagi sesama, dan semoga saja juga berguna bagi kita sendiri. Semoga Allah selalu melapangkan hati dan jalan kita untuk ikut terbantu saat kita melapangkan tangan kita untuk merangkul sesame; membantu hati kita agar lebih peduli dan bijak berkehidupan di atas bumi ini.  Aamiin.

Ditulis pada 5 Desember 2013!

Selamat hari volunteers sedunia kawan-kawan! Terkhusus untuk para pengurus dan relawan TPMT yang luarbiasa. Juga untuk sahabatku di sana yang diberkahi pelajaran lewat ujian dalam berbagi. Semoga kita terus semangat dalam berbagi, untuk kebaikan atas azas kemanusiaan dibawah naungan Allah. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published.