Friday , 15 December 2017
Home » CATATAN KEHIDUPAN » Mawar Ber’label’
Mawar Ber’label’

Mawar Ber’label’

 

 

Suatu hari, saya diperintahkan untuk membeli sekuntum mawar. Pesannya; mawar yang indah dan menawan untuk menghiasi ruangan yang membosankan. Saya kebingungan, tapi bertekad mencari. Menyusuri satu persatu florist, tapi tak ada yang berkenan.

Hingga, tanpa sengaja, saya berhenti di sudut ruangan. Dua kuntum mawar merah, yang bercabang elegan itu memesonakan saya. Bunganya segar, wanginya tidak menyengat, tapi cukup menenangkan saat kita mendekat. Daunnya antara lengkap dan tidak, banyak cabikan ulat di sana sini, begitu juga debu. Durinya panjang, tajam, dan terlihat sangat kokoh. Tapi bunganya, meski sedikit berdebu, lengkap sempurna.

“Matamu istimewa nak!” bisik seorang ibu. Saya tebak, ia adalah penjual di toko itu.

“Ini adalah mawar langka. Ia tumbuh di alam liar, di impor langsung dari Ethiopia. Jadi tidak heran jika harganya mahal. Ia sangat jarang terlihat, bersyukur saya sempat membelinya. Kamu berminat?”

‘Iya’ pekik saya dalam hati. Saya menghitung jumlah uang yang diamanahkan kepada saya. Tidak cukup! Tapi saya terlanjur jatuh cinta dengan mawar ini. Saya tidak mungkin pulang tanpa membawa mereka. Debu, duri, dan rekahan merahnya sempurna. Saya melihat dana pribadi saya, cukup. Saya memilih berkorban untuk mendapatkannya. Toh jika mawar ini dipajang di kantor. Saya juga yang senang bisa memandanginya setiap hari.

Saya melangkah senang dengan senyum terkembang. Sesekali melempar pandang ke mawar itu, aman. Senyum saya kembali terkembang. Hanya saja, saya tidak nyaman dengan label nama dan harga yang ada di vasnya. Saya mencopotinya, dengan harapan semua orang bisa melihat keindahan mawar meski tak ada labelnya.

***

Taraaaa….

Pekik saya antusias sambil menunjukkan mawar yang saya belikan penuh bangga. Seisi kantor heran. Lantas mereka melanjutkan pekerjaanya. Tak ada sedikit pun yang peduli pada mawar yang saya bawa. Si petunjuk titah masalah memasang muka kesal.

“Aku menyuruh kamu membeli mawar yang bagus. Bukannya yang dekil begini.” Saya bingung.

“Kamu kerja tidak becus. Kembalikan uangnya. Saya tidak mau terima mawar begini. Saya akan carikan sendiri.” Lanjutannya membuat saya mumtab. Tapi saya tidak mau ribut. Saya kembalikan uangnya, dan mawar itu saya bawa pulang. Akan saya taruh di kamar, agar saya bisa melihatnya setiap hari.

Dalam perjalanan pulang. Seseorang mencegat saya. Mawar waka-waka kah? Matanya berbinar terang, pancaran antusias yang jelas.

‘saya mengangguk sekilas.’ Tidak berminat, takut dicaci lagi.

“Wah, beruntung sekali kamu. Saya sudah lelah mencarinya, tapi tak kunjung mendapatkannya. Dimana kamu membelinya? Saya sangat ingin memilikinya. Ini mawar yang sangat indah dan langka. Sangat jarang beredar di pasaran.” Jelasnya antusias sekali, membuat saya kalang kabut kesenangan. Saya menjelaskan dimana saya membelinya beserta adegan pengusiran tadi. Ia tertawa dan lantas mengajak saya masuk kembali ke kantor.

Setiba di dalam. Ia memohon semua orang memperhatikan, seolah-olah kami akan mendengarkan titah raja yang sangat sakral. Ia membungkuk hormat, dan menjunjung mawar itu tinggi-tinggi sambil berkata “teman-teman, saksikanlah mawar terbaik yang pernah saya lihat, mawar waka-waka asal Ethiopia. Ini adalah salah satu spesies langka yang sangat jarang didapatkan.” Kemudian ia berpaling kepada saya dan meminta label bunga mawar itu. saya menurut, dan ia kembali menempelkan label itu.

Semua penghuni kantor mendekat, wajahnya cerah berkilau, laksana sedang berjumpa dengan ratu dari kerajaan ternama. Mata mereka fokus, tak berkedip dalam keterpesonaan yang sempurna.

Si empunya titah malah berkata “kamu hebat. Hebat sekali bisa menemukan mawar secantik ini.”

Saya kalut. Bukankah ini mawar yang persis sama dengan yang saya bawa tadi? Kenapa responnya berbeda? Memahami tanda tanya di wajah saya, ia berujar “Itulah kamu, kenapa tidak bilang dari tadi kalau ini mawar hebat? Kalau dari tadi saya tahu, saya kan tidak perlu memarahi kamu.”

Oh jadi begitukah? Sekuntum mawar hanya dilihat dari seberapa keren label dan harga jualnya. Tak peduli seberapa indah dan menawan kualitasnya. Baiklah, tak mengulur waktu, saya ambil mawar itu dan berjalan cepat keluar kantor. Saya memutuskan membawanya pulang dan tidak akan menyerahkannya kepada para penyembah label. Ini adalah mawar yang indah, apa adanya, bukan karena labelnya.

Si empunya titah kebingungan dan berteriak meminta mawar itu kembali. Saya tidak peduli. Dalam hati saya hanya menjawab, “Ok sir, welcome to the BL!”

 

UIN, sekelak..

Leave a Reply

Your email address will not be published.