Friday , 19 January 2018
Home » CATATANKU & TPMT » Mengharap Secuil Iba

Mengharap Secuil Iba

Semua berawal dari mimpi, keprihatinan dan kenekatan. Bermimpi dapat menjadi orang yang berguna dan umur tak hilang percuma. Dibumbui rasa prihatin yang berkepanjangan akan keadaan adek-adek kami tercinta yang semakin hari, semakin tak terungkapkan. Ditambah lagi dengan dorongan kenekatan yang telah membulat, meski terdengar tak ketulungan dan kami tak punya pohon uang.
Namun, kami tetap mencoba melangkah menggapainya, meski tak bisa berlari, merangkak pun jadi. Dengan mengandalkan dana pribadi dan kebaikan hati para teman-teman yang baik budi, kami dari Lambiwood Comunity (kumpulan muda-muda belia, ceria dan ingin berguna) ingin membangun sebuah Taman Pendidikan Masyarakat (TPM) “Tanyoe” di desa Lambirah.

  TPM “Tanyoe” ini meliputi sebuah pustaka sederhana berisi mayoritas buku anak-anak, meski tak lepas buku apa saja—asal berguna—akan juga kami pajang di sana.
  Program yang akan dijalankan tidak hanya sebatas hal-hal yang menyangkut dengan pustaka (alias baca-membaca dan pengadaan buku saja), namun lebih dari itu, kami juga ingin menambah minat baca, pengetahuan dan skill anak-anak tersebut, khususnya yang menyangkut islam. Kami ingin menanamkan pemahaman keislaman anak-anak melalui hal-hal yang lebih hidup dan mudah dipahami, bukan hanya berupa buku sekolah dan hafal menghafal saja. kami ingin membimbing anak-anak ini untuk memamhami bahwa islam luas, menyangkut segala hal. Islam bisa dipelajari lewat seni, ilmu pengetahuan, memahami alam dan juga lewat bermain.
Kenapa harus desa Lambirah yang menjadi pusat pembinaannya?
Desa lambirah adalah salah satu desa yang terletak langsung di bawah lereng pergunungan Bukit Barisan, bisa dikata termasuk dalam kategori desa terpencil dan terbelakang dalam kawasan Kabupaten Aceh Besar. Rata-rata mata pencaharian penduduk setempat adalah petani dan peternak. Tingkat pendidikan mereka pun masih tergolong di bawah rata-rata.
Jadi tak heran, jika anak-anak setempat memiliki semangat belajar yang lemah. Kesalahan memang tak murni bisa kita limpahkan kepada mereka, selain karena faktor biaya dan dorongan dari orang tua yang minim, pengaruh kekurangan fasilitas (bahkan bisa dibilang nyaris tak ada) merupakan faktor utama penyebab kemalasan dan ketidak acuhan mereka terhadap pendidikan.
“Pustaka saja macam gudang, dah buku-bukunya lusuh lagi. Siapa yang mau membaca?” kira-kira begitulah fakta yang menimpa mereka.
Selain krisis semangat belajar, mereka juga mengalami kelangkaan mimpi dan cita-cita. Bagi mereka masa depan itu seolah begitu statis untuk orang-orang seperti mereka. Orang tua mereka petani, begitu juga dengan kakek nenek mereka dulu, jadi mereka juga berfikir, untuk apa sibuk belajar? toh pada ujungnya mereka juga akan menjadi petani, layaknya nenek moyang mereka dulu.
“Cita-cita saya ingin jadi petani. Saya ingin belajar buat layang-layang.” Ujar Alek (nama panggilan) suatu hari. saat ditanyakan apa cita-citanya dan apa saja yang ingin dipelajarinya (hal ini kami lakukan untuk mengobservasi, kira-kira apa-apa saja yang harus kita ajarkan untuk mengasah bakat dan minat mereka).
Lain halnya dengan Pojan (juga panggilan), dengan tegas ia menjawab pertanyaan kami.
“Enggak mau nulis cita-cita, selalu disuruh tulis cita-cita, bosan. Aku enggak punya cita-cita.” Pekiknya kesal, saat diminta untuk menuliskan cita-citanya dan apa yang diinginkannya. Kami hanya bisa mengurut dada. Bagi Pojan cita-cita dan mimpi tak ada arti sama sekali, hanya omong kosong belaka. Mereka betul-betul miskin, baik financial maupun motivasi.
Hasilnya, nilai di sekolah jongkok, kemampuan (apa saja) gagap, bahasa Arab buta (masih untung mereka bisa membaca Al-qur’an, meski terbata-bata), bahasa inggris tak kenal, apalagi teknologi? Murni tak ada dalam bayangan mereka.
Ironi dibalik Gaptek.
Mereka murni Gaptek. Selain karena dana yang memang sangat minim dan fasilitas yang tidak ada, jangkauan (dan juga orang yang mengenalkannya) pun tak ada. Namun, betapa disayangkan. Ternyata ada pihak-pihak tertentu yang tega-teganya mengambil keuntungan dari keterbelakangan mereka itu. Teknolongi diperkenalkan secara diam-diam, tapi bukan untuk membangun, melainkan untuk merusak mereka.
Usaha PS mulai menjamur secara rahasia (walau sebenarnya sudah menjadi rahasia umum), dan anak-anak yang harus menelan pahitnya, tanpa ada yang mengacuhkan. Mereka yang memang sudah tak punya semangat belajar, semakin lalai dalam buaian PS yang sangat indah itu. Bagi mereka itu adalah hal baru yang sangat menyenangkan.
Bahkan Baha  dan Ulol (panggilan juga) pernah digebuki oleh warga setempat, gara-gara kedapatan mencuri ayam tetangganya. Usut punya usut, ternyata akar dari kebobrokan moral mereka itu adalah PS. Mereka terpaksa mencuri karena tidak punya uang untuk main PS.
Bagi sebagian orang, ini merupakan hal yang sepele, hingga meski PS itu sudah jelas-jelas pembawa petaka, tetap saja tak ada yang mengambil tindakan tepat untuk menanganinya.
Itulah sebabnya, demi mengalihkan perhatian anak-anak dari PS dan membimbing mereka agar lebih mencintai Islam dan pendidikan, kami ingin melakukan yang terbaik sebisa kami. Namun, layaknya segala sesuatu yang dilakukan dengan mengandalkan dana pribadi dan keikhlasan hati semata, akan mengalami kekurangan dimana-mana, baik dana maupun tenaga kerja, begitu juga dengan kami.
Oleh karena itu, kami sangat memohon bantuan dari semua pihak, baik berupa dana, buku bekas, mainan anak-anak, lemari bekas, hiasan-hiasan dinding, apa pun itu, yang penting dapat digunakan untuk memenuhi dan memperindah pustaka, akan kami terima dengan lapang dada. Bagi yang memiliki keahlian khusus baik mengajar (seperti Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Matematika, Agama, Science, dan lain sebagainya), maupun yang memiliki kemampuan di bidang seni (seperti acting/drama, main alat music, menari, menyanyi, membuat kreasi (apa saja), main rebana, dan lain sebagainya), kami sangat mengharapkan bantuan anda untuk menjadi tenaga pengajar pada bidang-bidang yang dikuasainya itu.
Bagi yang berminat, boleh mengirimkan inbox ke husnul Khatimah Adnan dan TPM Tanyo, follow kami di twitter @ahhuskha dan @TPMTanyoe. Boleh juga menghubungi kontak kami di 085277350698, atau ke alamat email tpmtanyoe@gmail.com.
Sekecil apa pun bantuan anda, sungguh berguna bagi mereka, dan pastinya akan dibalas oleh Allah. Siapa tahu malah menjadi jalan bagi anda menuju surga. Salam sejahtera dari kami, pengurus TPM “Tanyoe” di desa Lambirah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.