Friday , 15 December 2017
Home » CATATANKU & TPMT » Merayu "ketidakmungkinan"
Merayu "ketidakmungkinan"

Merayu "ketidakmungkinan"

Saat ide tentang pendirian TPM Tanyoe mengemuka, respon pertama adalah “tidak mungkin.” Bukan hanya dari pihak luar, para pengurus sendiri berpikir demikian. Bagimana tidak. Selain karena kelangakaan dana, tepatnya memang tidak ada. Ketakutan, kalau-kalau nanti setelah kita buka TPM Tanyoe, tapi malah anak-anaknya tidak mau datang bagaimana? 
Malah, ada masyarakat yang tak sungkan-sungkan mengungkapkannya secara blak-blakkan. “enggak ada kerjaan bangun pustaka buat anak-anak desa. Mana mau mereka baca. Kayak tidak tau anak-anak desa aja.  Suruh cari siput di sawah, baru pas buat mereka.” Kira-kira begitulah.
Glek, mendengar kata-kata itu saja, rasanya cukuplah. Hayo, kita mundur teratur bareng-bareng dari niat membangun TPM Tanyoe yuk. Toh, enggak akan berhasil seperti yang disarankan oleh orang itu. Jangankan mengajak anak-anak belajar bersama di TPM, menghalau mereka ke pustaka saja, supaya mau membaca, tidak mungkin.
Tapi, sekali layar dibentangkan, tak mungkin balik ke daratan. Toh juga sudah basah sepinggang, ya mandi saja sekalian. Lagi pula, tidak boleh langsung mempercayai perkataan orang tanpa adanya penyelidikan yang lebih mendalam. Begitu juga kami, memang antara saya dan  mereka sudah lumayan dekat, tapi untuk masalah keseharian dan tabiat mereka dalam belajar masih belum saya kenal. Karena saya hanya bersua dengan mereka setiap malam, saat mengajar mengaji yang dengan sistem yang lumayan konvensional. Anak-anak mengaji, saya menyimak, jika ada yang salah akan saya betulkan. Begitu terus setiap hari.
Karena itulah, saat mendengar pekikan ketidakmungkinan yang mulai menjadi-jadi, saya memutuskan untuk mencari tahu yang sebenarnya itu bagaimana. Saya mulai melakukan pendekatan yang lebih personal dengan mereka. Dimulai dengan hal yang paling sederhana. Saya ikutan menemani mereka bermain layang-layang. Sambil bermain, sesekali saya nyelutuk menanyakan tentang bagaimana pandangan mereka tentang belajar, sekolah, dan masa depan. “enggak seru sekolah, bosan.” Kata Alek, tanganya terus mencaoba menarik layang-layangnya.
“cita-cita saya jadi pilot kelapa.” Ujar Ramadhan, atau lebih akrab disapa Bojan, santai sekali, saat saya tanyakan, kira-kira kalau besar nanti mereka ingin jadi apa. Kemudian, pertanyaan-pertanyaan saya selanjutnya, ditanggapi dengan ogah-ogahan, jika itu menyerempet dengan hal-hal yang berbau sekolah. Dan akan dengan penuh antusias, saat pembahasan layang-layang dan permainan.
Lagi-lagi, hati saya menyusut mendengar jawaban polos mereka. Belum pun aku bertanya masalah buku dan minat membaca. Ditengah lari-lari kecil, mengejar layang-layang, sambil mencari-cari sudut pandang mana yang indah untuk dibidik, aku memutar otak. Antara cemas, khawatir, juga bersemangat. Bagaimana ini? Apa yang harus saya lakukan jika semangat mereka untuk belajar tidak ada sama sekali? Benar sudah ucapan mereka-mereka yang pesimis. Lantas, haruskah saya mundur?
Ya, hipotesis pertama terjawabkan. Mereka tidak punya motivasi sama sekali untuk bersekolah, baik dari dalam diri, maupun dari orang tua dan masyarakat sekitar. Masalah buku bagaimana? Apakah mereka suka membaca buku cerita anak-anak, atau jangan-jangan malah alergi sama buku, dan bahkan anti.
Hari itu, meski kesimpulannya suram. Tapi saya cukup bahagia, karena tanpa saya sadari, mereka mulai mempercayai saya. Mulai menganggap saya sebagai kakak. Setiap saya lewat di jalan, saat hendak ke kampus, mereka selalu menyapa saya. Meski dengan sapaan yang rada-rada sama. “Kak Imah. Kapan kita main layang-layang lagi?” mata mereka begitu berbinar saat mengatakannya, membuat semangatku juga kembali merangkak naik. 
Lihatlah, baru satu cara saja yang saya pakai, sudah lumayan berbekas di hati mereka. Apalagi jika saya terus berusaha, tentu dengan variasi yang berbeda. Insya Allah pasti berhasil.
Saya begitu bersemangat hari itu. Pulang dari kampus, saya langsung mampir ke Toko buku, dan memilih beberapa buku cerita anak-anak, tentu sesuai dengan kempuan dompet saya saat itu. Ada 5 buku yang saya beli, semuanya buku tentang Asma Allah, yang diceritakan melalui pendekatan Princess. Ada Princess Rahmania, Hafiza, Lathifa, dan lain-lain. Di samping juga buku cerita Dongeng Tiga Benua dan Diary Dodolnya kak beby. Karena, dalam bayangan saya, paling bantet yang akan mau membaca buku-buku ini adalah mereka-mereka yang perempuan. Toh, memang kenyataannya, dimana-mana yang rajin itu murid perempuan, bukan laki-laki.
Sesampainya di rumah, saya malah kebingungan. Bagaimana cara mengajak mereka membaca? Jumlah buku cuman lima, sedangkan jumlah mereka ada hampir 30 orang. Aha, tiba-tiba aku teringat tentang pendekatan Piknik, belajar di alam, atau apalah namanya yang sejenis. Nekat saja, aku mengumumkan kepada anak-anak sepulang mengaji. Kalau hari minggu (24 Juli 2011), kita akan berlibur ke Rigah. Katanya ada air terjun di sana. Meski pun saya sendiri belum pernah menginjakkan kaki ke sana, tapi asal nekat aja ajak anak orang rame-rame.
Beberapa malam sebelum hari H, saya sibuk membaca semua buku yang saya beli. Saya hafal jalan ceritanya, dan bagaimana cara menceritakan kembali dengan menarik. Saya laksana orang gila malam itu. Sibuk bercerita kepada cermin. Karena sangking takutnya kalau mereka tidak mau membaca, saya akan merayu mereka dengan cara mendongenkan terlebih dahulu. Biar mereka penasaran, dan ujungnya akan dibaca sendiri.
Namun, alhamdulillah, pagi minggunya. Ternyata semua kekhawatiran saya salah. Mereka menyukai buku cerita, apalagi yang bergambar. Sambil menunggu semua anak-anak berkumpul, iseng-iseng saya menampakkan buku-buku tersebut. Ternyata, tau apa? Mereka semua berebutan siapa yang ingin membaca duluan. Hampir menangis saya hari itu, terharu. Ujungnya saya menengahi dengan menceritakan kepada mereka semua, agar semuanya dapat mendengarkan.
Hambatan mendasar terangkat. Jika anak-anak mau membaca dan begitu antusias belajar bersama kami disini, lantas kekhawatiran macam apalagi yang perlu dipertahakan demi mencari-cari alasan? Tidak ada. Murni tidak ada. Jika anak-anak ingin belajar dan para pengurus mauberjuang, saya rasa tidak ada lagi ketakutan yang berarti akan kegagalan. Saat itulah, melihat antusias, tawa bahagia yang penuh semangat dari anak-anak itu membuat kami (para pengurus) sadar, apa pun rintanganya, jika anak-anak sendiri ingin belajar, kami akan tetap disini. Untuk mendampingi dan mengayomi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.