Friday , 15 December 2017
Home » CATATANKU & TPMT » Nyan Buet Yahudi!
Nyan Buet Yahudi!

Nyan Buet Yahudi!

Akhir-akhir ini kami sibuk sekali. Kami sibuk mempersiapkan taman TPMT. Tujuan pembuatan taman ini sederhana saja. Kami ingin mengajak anak-anak mengetahui cara menanam bunga, pohon, dan menjaga taman tersebut. Diharapkan dengan begitu mereka akan tahu kalau menanam bunga itu tidak mudah, tapi mengasyikkan. Jadi ia tidak akan dengan mudah mencabut dan mengganggu tanaman ibu mereka di rumah atau tanaman siapa saja yang lainnya. Dengan begitu, cinta serta kepedulian terhadap tanaman dan lingkungan sekitar bisa tumbuh di hati anak-anak dengan sendirinya. Itulah kira-kira cita-cita sederhana kami. Saya rasa itu adalah cita-cita yang mulia, ya kan teman-teman?

Untuk memotivasi mereka dalam belajar, kami ingin membuat taman per-kelas dan menumbuhkan situasi kompetisi yang sehat antar anak-anak. Dimana taman setiap kelas akan dinilai, dan di setiap akhir semester akan diumumkan taman kelas berapa yang merupakan taman terbaik. Oleh Karena itu, kami mengabari anak-anak melalui SMS kalau setiap murid TPMT diharapkan membawa satu jenis bunga hidup beserta pot( dengan catatan pot yang dimaksud tidak mesti pot baru, kaleng cat bekas, kaleng susu, apapun yang mirip pot boleh dibawa). Kami sadar betul fenomena keuangan keluarga murid-murid kami, karenanya kami tidak mengharapkan mereka membawa barang-barang baru yang harus mengeluarkan uang untuk mendapatkannya.

Meski begitu mulia cita-cita kami, dan meski begitu sederhana hal yang kami harapkan dari anak-anak, namun tetap saja ada yang tidak berkenan dan memandangnya sebagai hal yang buruk. Saya sangat terkejut saat mendapatkan SMS dari salah satu pengurus TPMT yang bertugas memberitahukan berita ini melalui SMS kepada anak-anak. Dari bahasanya, tampak ia sangat khawatir. Ia mengabari, “Kak, bagaimana ini? Saya harus balas apa? Ada anak-anak yang membalas SMS saya seperti ini ‘Nyan but Yahudi, hana jak le!’ (Itu perbuatan Yahudi, saya tidak mau lagi belajar di TPMT).”

Saya terperangah. Dari gaya bahasa yang begitu lancang, saya yakin itu bukan redaksi dari anak-anak, melainkan dari orang tua mereka. Namun, adakah orang dewasa yang begitu picik menganggap menjaga tanaman demi keindahan dan kesehatan adalah perbuatan Yahudi? Hampir saja saya mengetik kata-kata makian untuk dibalas kepada si orang tua itu. Namun, tetiba saya sadar, karena keberadaan orang-orang seperti inilah TPMT didirikan. Kalau semua orang tua  baik dan mengerti akan esensial pendidikan dan kehidupan, memang dari jauh-jauh hari TPMT ini tidak pernah perlu didirikan.

Jadilah saya hanya bisa membalas “Mana ada pekerjaan Yahudi. Taman ini adalah untuk mengajak anak-anak belajar menjaga lingkungan dan keindahan, bukankah Allah Tuhan kita mencitai keindahan? Bukankah islam mengajarkan kalau manusia adalah khalifah di muka bumi ini, yang mana harus menjaga tanaman dan lingkungan sekitar? Harus ditekankan, disini kami tidak pernah mengajarkan anak-anak hal-hal yang bertentangan dengan Islam. Jika memang adik tidak mau lagi belajar di TPMT, tidak masalah, toh dari awal kami memang tidak pernah mengajak adik belajar bersama kami, adik sendirilah yang datang mendaftarkan diri kepada kami.” Kemudian saya ketik send, dan pengurus pun mengirimkan kepada si anak yang dimaksud. Namun, kemudian, tidak pernah ada lagi balasan, dan ia pun tak pernah muncul di TPMT.

***

Meskipun singkat, isi SMS itu terus mengganggu pikiran saya. Beginikah kita memaknai kehidupan dan keislaman? Segala hal yang berbau pembaharuan dan modern selalu dikaitkan dengan Yahudi. Saya melihat seperti adanya Yahudi phobia (katakutan berlebih) di masyarakat kita. Lebih parahnya, kata Yahudi untuk masyarakat Aceh tidak selalu berarti orang Yahudi. Namun, lebih dari itu, kata Yahudi sering diartikan sebagai kata sifat yang menunjukkan seseorang yang sangat buruk perangai dan kelakuannya. Hal ini tercermin dari makian yang sering terlontar dari masyarakat Aceh “Kah lage Yahudi! (kamu seperti Yahudi!) kata ‘seperti Yahudi’ disini tidak berarti orang yang dimaki memiliki perawakan seperti Yahudi, namun ia mempunyai perangai yang buruk yang diibaratkan seperti perangai orang Yahudi.

Bagi sebagian orang Islam, Yahudi adalah kaum yang sangat jahat dan sangat tidak manusiawi. Sadisnya penjajahan terhadap penduduk palestina dan tempat lainnya sering dijadikan contoh penilaian perangai buruk itu. Kepercayaan ini terkadang memang tidak bisa dipungkiri, tapi juga tidak boleh di-general-kan.

Jika pun Yahudi jahat, haruskah kita selalu menyalahkan mereka atas semua perbuatan dan kesalahan, dan kejatuhan kita umat Islam? Kita bisa membenarkan kalau orang Yahudi memang berusaha menghancurkan Islam dan berbagai kebudayaan yang dipunyainya. Lantas, haruskah kita salahkan mereka untuk kemalasan kita dalam menjaga lingkungan, untuk kegagalan kita dalam peduli dengan sesama? Haruskah mereka yang disalahkan ketika kita begitu mencintai program-program bodoh yang ditampilkan televisi ketimbang beribadah kepada ilahi?

“Mereka kan mencuci otak kita, hingga kita tanpa sadar mencintainya dengan begitu saja!” itulah alasan yang sering terlontar dari mulut kita. Boleh lah jika kita bilang Yahudi yang mencuci otak kita. Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa kita mau dicuci otak oleh mereka? Jika mereka bersikeras membuat kita jauh dari nilai dan ajaran Islam, pertanyaan selanjutnya adalah kenapa kita tidak berusaha sekuat tenaga mendekatkan diri dengan Islam? Kenapa kita malah berjalan menunduk, mengikuti saja atas apa yang mereka sodorkan? Dalam posisi yang begini, haruskah kita salahkan mereka saja? Sedangkan kesalahan kita yang selalu bodoh dan mudah dibodohi harus dibawa kemana? Disimpan saja dalam peti dan bertindak sok cerdas seolah kita yang benar?

Jujur, saya pribadi selalu kesal mendengar orang-orang yang selalu mengkabinghitamkan Yahudi untuk segala kesalahan yang dibuat umat Islam, atas segala kejatuhan umat Islam, sedang ia sendiri tak pernah melakukan sesuatu apapun untuk perkembangan dan kebaikan umat islam itu sendiri. Hal itu bukan karena saya mencintai Yahudi, tapi karena pada dasarnya tidak boleh mengklaim salah sebuah kaum secara keseluruhan. Bisa jadi ada yang satu dua orang yan baik di antar mereka. Lebih tepatnya, saya kesal dengan sifat “mudah menuduh orang” itu, yang padahal dalam Islam tak pernah diajari sama sekali. Nabi Muhammad yang mulia saja diceritakan pernah memberikan makan seorang wanita tua Yahudi, yang padahal si wanita itu hobi sekali memaki dan menghujat beliau. Rasulullah selaku teladan kita saja sudah menunjukkan contoh yang sebegitu mulia, kenapa juga kita berpaling?

Ah, saya pusing. Saya takut, jika pola pikir seperti ini terwariskan untuk anak-anak kita kelak. Lebih takut lagi, karena kita malas belajar Islam, ilmu keislaman kita hanya sebatas ranah simbolis saja. Sementara di pihak lain, Yahudi terus mempelajari nilai-nilai keislaman yang mereka anggap baik dan diterapkan dalam kehidupan mereka. Nah, ketika mereka menerapkan hal itu dalam kehidupan mereka, sehingga menjadi ciri khas mereka, kita yang memang sudah jauh dari Islam akan dengan gampang saja mengejek orang-orang yang terkesan mengikuti ‘perbuatan Yahudi’ yang padahal perbuatan itu adalah kearifan Islam yang sendiri yang telah diadopsi. Contoh sederhananya, perihal taman ini. Wallahua’lam…

Leave a Reply

Your email address will not be published.