Friday , 15 December 2017
Home » CATATANKU & TPMT » Pensil yang Tertukar!
Pensil yang Tertukar!

Pensil yang Tertukar!

Pensil yang Tertukar!

Aku lupa hari itu hari apa, yang jelas aku sibuk sekali. Sibuk mengintip proses pembelajaran dari satu kelas ke kelas lain. Dimana terdengar keributan tak jelas, aku mendekat, anak-anak langsung senyap. Entah mereka takut, entah pula segan. Yang jelas hal itu membuatku sering bertanya-tanya sendiri, jangan-jangan aku sekejam ibu tiri ya? Iiieee, ngeri!

Saat itulah aku melihat Rahmi tergopoh-gopoh mendekatiku. Meski masih duduk di bangku kelas 3 SMA, ia kami percayakan sebagai wali kelas 1 Sd di TPMT. Mukanya pucat, sinar matanya redup, ia tampak ketakutan.

“Kak, kiban nyoe?/Kak, bagaimana ini?” Suaranya gemetar.

“Apanya yang bagaimana?” Aku khawatir. Ia adalah anak yang cakap dalam mengajar, jarang sekali ia bermasalah.

“Anak-anak ini kak…” Berceritalah ia panjang lebar, sambil mengajakku ke kelasnya. Ternyata, dua muridnya, A dan B sedang memperebutkan sebatang pensil. Kebetulan pensil mereka bercorak persis sama, hanya panjangnya yang berbeda. Satu pensil masih panjang, satu sudah pendek. Keduanya mengaku kalau pensil mereka adalah pensil yang panjang.

Begitu tiba di ruang pustaka, yang sering di pakai sebagai tempat belajar kelas 1, aku melihat A dan B sama-sama bermata sembab. A bersikeras itu pensil dia. Dia baru membelinya dua hari yang lalu. ‘masuk akal jika pensilnya masih panjang’ kicauku dalam hati. Tapi B juga bersikeras itu pensilnya. Aku pusing. Air mata mereka terus berlinang, murid yang lain malah ada yang sibuk membela salah satu dari mereka. Ada juga yang hanya diam saja, ditanya kesaksian merek atentang perkara pensil itu, ia malah menggeleng seenaknya.

Aku kalut. Rahmi sudah dari tadi bersimbah keringat dingin.

“Begini saja, kalau tidak ada yang mengaku pensil siapa yang pendek, kedua pensil ini kak Imah potong saja ya. Biar sama panjangnya, jadi adil kan?” Sangking pusing, cuman ide itu yang teringat. Terilham dari kisah ‘anak yang tertukar’ yang diadukan ke  Nabi Sulaiman. Entah pun benar itu cerita, aku mendengarnya saat aku masih SD. Saat itu aku betul-betul terinspirasi dengan kisah itu. Kuharap anak-anak ini juga begitu.

Tapi apa? Medengar ucapanku tangis mereka malah semakin meledak. Aku semakin galau jadinya, Rahmi apa lagi. Kalau begini terus, alamat aku ikut menangis juga nanti. (kan enggak asik banget, masak ibu guru juga ikutan nangis gara-gara pensil!) karenanya, kuperas otakku kuat-kuat. Hayok dong ide, keluarlah! Jangan biarkan air mata kedua anak ini habis tapi kamu belum muncul juga. Maklum, hati anak kelas 1 SD itu sangat sensitif. Sangat susah dipahami, begitu juga mereka, masih susah memahami intruksi dan penjelasan kita. Makanya aku super bingung dan hati-hati dengan masalah ini.

“Ok, kalau begitu, begini saja. Kedua pensil ini kak Imah sita. Hari ini kalian pakai pensil TPMT aja ya! Pensil ini suruh ambil sama mamak kalian aja besok ya. Mamak kalian pasti tahu yang mana pensil anaknya kan?” Itulah hasil perahan otakku, keluar dalam pasrah plus pesimis.

Si A tampak reda tangisnya, ia hampir mengangguk, tiba-tiba B bergumam dibalik tangannya. Sedari tadi ia menangis dengan menutup muka dengan kedua tangannya. Aku mendekat. Ternyata ia mengaku kalau pensil yang pendek adalah miliknya. Ah, senangnya! Hampir saja aku berjingkrak kesenangan. Senyum Rahmi pun langsung mekar. Tangis A pun langsung  berhenti.

Kemudian kuminta B meminta maaf kepada A, tapi sepertinya terlalu sulit bagi A untuk memaafkan, juga bagi B. Mereka masih terlalu ego untuk sebuah kata maaf (ini jadi Pr bagi kami ke depan). Meskipun demikian, setelah peristiwa gempar itu mereka kembali belajar, meski dalam diam dan isak yang tersisa.

Aku pun melenggang kembali, beroperasi seperti sediakala. Sambil melangkah aku terpikir satu hal. “Betapa pengaruh seorang amak (ibu) itu sangat besar bagi perkembangan karakter seorang anak. Kutebak, mamak si B adalah tipe mamak yang peduli. Hanya saja mungkin ia lupa menanamkan rasa (bangga) kepemilikan terhadap barang milik sendiri dan tidak baiknya menginginkan barang orang lain. Buktinya B langsung mengaku saat mamakya dibawa-bawa dalam perkara itu. Ia pasti takut kalau mamaknya tau kalau yang pendek adalah pensilnya. Jadi sebelum mamaknya tau perkara itu, mending mengaku. Kira-kira begitulah logikanya. Jika seandainya mamaknya bukan tipe peduli, pasti dia tak akan mengaku. Ngapain sibuk-sibuk mengaku, toh nanti saat ditanya sama mamaknya yang mana pensilnya, mamaknya juga enggak tahu”

Ah, Mom always take the largest part in Kids education process. “Aku mau jadi mamak yang peduli dan hebat juga nanti! Semoga kejamku hilang! Aamiin.” aku berdoa sungguh-sungguh sambil bergerak cepat ke arah keributan di seberang sana. Hahaha.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.