Friday , 15 December 2017
Home » CATATANKU & TPMT » Perempuan Perkasa dari Lambirah
Perempuan Perkasa dari Lambirah

Perempuan Perkasa dari Lambirah

Oleh: Muhammad Hamzah – 31/07/2011 – 15:31 WIB
SEDIKIT GAGAP, Husnul memberi sebuah pengumuman mengejutkan kepada anak-anak Desa Lambirah, Aceh Besar, awal Juli silam. “Dek, niatnya kakak dan kawan-kawan mau membuat pustaka untuk kalian. Nanti di sana kalian bisa membaca buku apa saja, buku cerita juga ada di sana. Terus kalian juga akan diajari, apa saja yang kalian ingin pelajari,” ujar Husnul.
Ternyata, ucapan perempuan 20 tahun itu, begitu menggoda anak-anak yang tinggal di kaki Bukit Barisan tersebut.
 
Husnul (berbaju orange) di antara anak-anak Lambirah. | Dok Pribadi

“Kak nanti buku apa saja yang ditaruh di sana?” celutuk Nonong, seorang anak perempuan.
“Banyak dek. Buku cerita ada, buku pelajaran juga ada, tergantung pada dana dan sumbangan dari orang-orang,” kata Husnul. Ia tersenyum, sebelum meneruskan ucapannya. “Jadi, jangan lupa berdoa, ya. Moga banyak yang nyumbang buku buat kalian.”
Husnul punya banyak rencana untuk mendampingi anak-anak pedesaan ini. Husnul mulai memikirkan agenda pertama. Tak ada satu tempat pun yang terbersit di pikiran Husnul. Tapi, ia memberanikan diri menanyakan kepada anak-anak Lambirah, apa agenda mereka minggu itu? “Enggak ada kak. Kenapa kak?” Mereka menjawab serempak. Wajah-wajah penasaran terekspresikan dengan lucu.
“Kakak mau pergi ke suatu tempat besok, mau ikut?” Sedikit serius, Husnul memberi penawaran.
“Ke mana kak,” mereka semakin penasaran.
Mendapat pertanyaan ini, mahasiswi Tarbiyah Bahasa Inggris IAIN Ar-Raniry ini gelagapan. Ia belum tahu mau mengajaka ke mana anak-anak ini. Belum lagi Husnul menjawab, seorang di antara mereka melempar usul.
 “Ke Gunong Lhee (gunung tiga) yok kak. Kita petik jamblang.” Pojan, salah seorang dari mereka memberi penawaran. Cepat, kawannya Rija menyelutuk, tak ada jamblang. “Sekarang masih berbunga.” Mulailah, anak-anak tersebut berebut memberi tawaran masing-masing. Suasana riuh. Husnul menikmati saja keriuhan ini.
Seorang anak mengusulkan piknik ke Digah. Sebuah sumber mata air yang mengalir, dan ada air terjun. Usulan anak tersebut disambut setuju kawan-kawannya. Mereka pun bersepakat untuk ke Digah.
Tapi, kini tinggal Husnul yang khawatir. Ibunya melarang mereka ke Digah. “Hai, jangan ke Digah! Bebatuannya terjal sekali. kamu tak akan sanggup mengawal anak-anak ini sendiri. Kalau mereka jatuh terpeleset ke sana bagaimana?” sergah ibunya begitu Husnul mengutarakan keinginannya mengajak anak-anak Lambirah ke Digah.
Husnul bimbang. Dia mencoba meyakinkan uminya, dengan alasan, anak-anak sudah sering menempuh perjalanan jauh ke pegunungan sana. Untungnya, kini sang umi memberi restu. Jadilah mereka berangkat ke Digah minggu itu.
“Aku terpana. Jujur, betul-betul terpana. Seumur-umur aku belum pernah melihat sinar cerah di mata mereka seperti yang kulihat malam ini. Mereka begitu semangat dan antusias, hal yang telah lama hilang dari mereka,” tulis Husnul dalam catatan facebook miliknya.
***
HUSNUL Khatimah, nama dara kelahiran Lambirah, 20 tahun lalu itu. Perawakannya sedang. Mimpinya, mencerdaskan anak bangsa, yang tentu dimulai dari tanah kelahirannya. Awalnya, dia menuturkan harapannya mencerdaskan anak-anak Lambirah tidak akan kesampaian. “Hana meupeu peuget! (Nggak ada kerjaan lain –red.). Kalau pun kamu mampu membangunnya, belum tentu anak-anak ini mau membacanya,” kata Umi (ibu) Husnul suatu malam, ketika ia menyampaikan niat, akan membangun pustaka di Lambirah.
 
Mimpi tersebut, kata Husnul, berawal dari rasa keprihatinan dan kenekatan untuk mengubah pandangan mayoritas anak-anak Lambirah. Bersama beberapa kawannya, ia menggagas pendirian sebuah Taman Pendidikan Masyarakat (TPM) di desa tampatnya tinggal. Awak Lambiwood Community (kumpulan muda-muda belia, ceria, dan ingin berguna) ini, memberi nama tempat pendidikan tersebut, TPM “Tanyoe”. TPM “Tanyoe” ini meliputi sebuah pustaka sederhana berisi buku anak-anak, meski tak lepas buku apa saja—asal berguna—akan juga akan terpajang di sana.
“Program yang akan dijalankan tidak hanya sebatas hal-hal yang menyangkut dengan pustaka. Ingin menambah minat baca, pengetahuan dan skill anak-anak tersebut, khususnya yang menyangkut Islam,” tulis Husnul.
Selain itu, Husnul dan kawannya ingin menanamkan pemahaman keislaman anak-anak melalui hal-hal lebih mudah dipahami, bukan hanya berupa buku sekolah dan hafalan semata. “Kami ingin membimbing anak-anak ini untuk memahami bahwa Islam luas. Islam bisa dipelajari lewat seni, ilmu pengetahuan, memahami alam dan juga lewat bermain,” lanjut Husnul.
Ironisnya, Husnul menjelaskan, anak-anak Lambirah murni gagap teknologi. Padahal, ia menyebutkan zaman semakin maju.“Mereka murni gaptek (gagap teknologi). Selain karena dana yang memang sangat minim dan fasilitas yang tidak ada, jangkauan pun tak ada. Namun, betapa disayangkan. Ternyata ada pihak-pihak tertentu yang tega-teganya mengambil keuntungan dari keterbelakangan mereka itu,” ujar Husnul.
Teknologi yang dia maksudkan diperkenalkan secara diam-diam, dan tapi bukan untuk membangun kepribadian anak desa, melainkan untuk merusak mereka. “Mereka sudah tak punya semangat belajar, dan selalu lalai dalam buaian Play Station (PS). Bagi mereka itu adalah hal baru yang sangat menyenangkan.”
Pengenalan teknologi yang tak tepat ini, selain membuat malas, juga mengikis moral anak. Baha dan Ulol, dua anak Lambirah, pernah digebuki warga gara-gara kedapatan mencuri ayam. “Usut punya usut, ternyata akar dari kebobrokan moral mereka itu adalah PS. Mereka terpaksa mencuri karena tidak punya uang untuk main PS,” kata dia.
Selain krisis semangat belajar, dan terlena dengan teknologi, anak-anak setempat juga mengalami kelangkaan mimpi dan cita-cita. “Bagi mereka masa depan itu seolah begitu statis untuk orang-orang seperti mereka. Orang tua mereka petani, begitu juga dengan kakek nenek mereka dulu, jadi mereka juga berfikir, untuk apa sibuk belajar? Toh pada ujungnya mereka juga akan menjadi petani, layaknya nenek moyang mereka dulu.”
Pernah suatu waktu, Husnul menanyakan cita-cita mereka. “Cita-cita saya ingin jadi petani. Saya ingin belajar buat layang-layang,” begitu jawab anak-anak Lambirah lugu.
Pojan, seorang anak malah kesal saat disuruh menulis cita-citanya. “Enggak mau nulis cita-cita, selalu disuruh tulis cita-cita, bosan. Aku enggak punya cita-cita.” Pekiknya kesal. Bagi Pojan cita-cita dan mimpi tak ada arti sama sekali, dan hanya omong kosong belaka. “Mereka betul-betul miskin, baik financial maupun motivasi.”
Hasilnya, mereka hampir tak menguasai ilmu yang didapat di sekolah.”Kemampuan (apa saja) gagap, bahasa Arab buta (masih untung mereka bisa membaca al Quran, meski terbata-bata), bahasa Inggris tak kenal, apalagi teknologi? Murni tak ada dalam bayangan mereka.”
 
Untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari PS, membangkitkan cita-cita agar mereka mengenal dunia, dan membimbing mereka agar lebih mencintai Islam dan pendidikan, bersama beberapa kawannya, Husnul mulai bergerak, berpikir lebih ke depan. Namun, segala sesuatu yang dilakukan dengan sangat sederhana. Mereka menggunakan dana pribadi.
***
LAMBIRAH adalah salah satu desa yang terletak langsung di bawah lereng pergunungan Bukit Barisan, yang merupakan desa terpencil dan terbelakang dalam kawasan Kabupaten Aceh Besar. Rata-rata mata pencaharian penduduk setempat adalah petani dan peternak. Tingkat pendidikan mereka pun masih tergolong di bawah rata-rata.
Jadi, tidak heran jika anak-anak setempat memiliki semangat belajar yang lemah. Di mata Husnul, melemahnya semangat belajar tak bisa serta-merta bisa menyalahkan anak-anak ini. Selama ini, mereka tak punya fasilitas pendidikan yang memadai, tak punya biaya yang cukup untuk menempuh pendidikan atau membeli buku bacaan. Akibatnya ya itu tadi, anak-anak sekolah dasar menjadi malas dan abai pada pendidikan.
“Pustaka saja macam gudang, dah buku-bukunya lusuh lagi. Siapa yang mau membaca? kira-kira begitulah fakta yang menimpa mereka,” ujar Husnul.
Bagi Husnul, mereka tetaplah anak-anak Indonesia yang wajib mendapatkan pendidikan yang sama. “Bagiku mereka adalah anak-anak manis, yang hanya bertindak sedikit di luar batas demi mendapatkan hak mereka, berupa perhatian dari orang dewasa,” kata dara ini.
Ia mengajak orang berpunya di daerah ini untuk ikut peduli pada nasib anak pedesaan yang mengalami keterbelakangan pendidikan. Tak hanya menyumbang uang dan materi, Husnul mengajak orang yang punya keahlian mengajar untuk ikut membantu anak-anak Desa Lambirah.
“Mereka adalah makhluk-makhluk mungil ciptaan Allah, intan permata yang diambang musnah, cacat dan ternoda gara-gara ketidakacuhan kita,” sebut Husnul. []
 source:

Leave a Reply

Your email address will not be published.