Friday , 15 December 2017
Home » CATATAN PIKIRAN » Say NO to Ustaz/Ustazah KW!: Menilai Pergeseran Makna dengan Filosofi Rendang Ala Saskia.
Say NO to Ustaz/Ustazah KW!: Menilai Pergeseran Makna dengan Filosofi Rendang Ala Saskia.

Say NO to Ustaz/Ustazah KW!: Menilai Pergeseran Makna dengan Filosofi Rendang Ala Saskia.

Beberapa waktu lalu, seorang teman berkisah tentang isi hatinya kepada saya. Sebut saja namanya Aisyah. Ia adalah gadis yang baik, polos dan bijaksana. Ia begitu teguh dengan prinsip-prinsip yang dipegangnya, khususnya tentang perasaan. Saya suka idenya tentang “tak suka bercanda dan di-becanda-in.” Hal ini juga yang membuat dia tak pernah berniat untuk pacaran dan sangat menjaga diri. Kami berteman sudah sangat lama, jadi saya tahu betul bagaimana dia.

Namun, prinsip hidupnya itu sempat terombang-ambing beberapa waktu lalu. “Nul, ada ustad yang minta ta’aruf dengan aku.” Ceritanya dengan mata berbinar, saya juga mendengarkan dengan binaran mata yang sama. “Wah-wah, Alhamdulillah sekali. Aku carter meja prancis ya! Hahaha.” Ia tertawa malu-malu saya goda begitu. Tampak benar ia serius. Saya sadar, kata ta’aruf adalah kata sakral nan formal menuju jenjang keseriusan sebuah hubungan, pernikahan. Kata ini tidak mungkin dikeluarin begitu saja, tanpa persiapan dan pertimbangan apapun. Saya paham betul itu, begitu juga dengan Aisyah. Itulah alasa binaran matanya yang tampak sangat bahagia. Begitu juga saya, sangat bahagia rasanya melihat teman bahagia.

Sayangnya, tak lama berselang, binaran itu redup ditelan waktu. Ia tampak seperti lumut yang ‘hidup segan mati tak mau.’ Saya curiga. Selaku teman, saya menanyakan keadaannya. Belum habis pertanyaan itu keluar dari mulut saya, air matanya telah jatuh bersimbah. Dengan suara dan tangan gemetaran, ia bercerita “Nul, aku ditipu. Ternyata itu hanya ustad KW.” Saya bingung. Dia menjelaskan “Ternyata ia hanya ustad jadi-jadian. Awalnya dia bilang minta ta’aruf. Tapi pas aku nanya dia tahu tentang aku darimana, kenapa tiba-tiba dia minta ta’aruf, dia sok-sok enggak kasih tahu. Tapi, ujung-ujung dia malah nanya-nanya tentang aku, yang bisa kusimpulkan dia enggak tahu tentang aku. Lah, kalau enggak tahu tentang aku, napa juga minta ta’aruf kan? Terus, kutanya jika pun kujelasin siapa aku, mau dikemanakan ini percakapan (red.hubungan)? Ia menjawab, untuk melangkah lebih jauh. Ia ingin mencari seseorang yang bisa memahami dia, yang bisa diajak ke langkah yang lebih jauh, yang kita lihat saja nanti. Kamu paham kan maksud penjelasan dia itu?” Tanpa perlu ditanya, selaku seperguruan soal penjagaan hati dengannya, saya tentu paham, kata-kata “ingin mencari sesorang yang bisa memahami dia yang bisa diajak melangkah ke yang lebih jauh, yang kita LIHAT SAJA NANTI” itu terdengar ditelingaku sama saja dengan “Hai cewek! Mau enggak jadi pacar aku? Kita pacaran dulu sampai capek, kalau ternyata cocok, nikah. Kalau enggak cocok, putus deh!”

Nangisnya kembali bersimbah. Aku pilu melihat temanku yang sangat kuat bisa jatuh terpuruk gara2 ustad KW begitu. Aku tidak menyangka ia bisa tertipu. Namun penjelasan lanjutannya membuatku menyadari sesuatu, tentang pergeseran makna dalam masyarakat kita. “Nul, jujur aku malu sama kamu. Aku malu karena sudah rapuh dan ter-bodoh-i dengan laki-laki macam begitu. Tapi aku betul-betul tidak menyangka kalau kata ta’ruf dan ustad itu sudah tidak seperti dulu lagi. Kamu pasti tahu kalau aku sangat menghormati karakter ustad/ustazah/ dan kata ta’aruf kan? Makanya ketika ia berkata demikian, aku langsung percaya. Karena aku tahu dia ustad, dan terlihat baik. Aku tidak tahu kalau dibalik peci dan janggutnya, ada domba bermata keranjang.”

Belajar dari kepunahan kata Insyaa Allah dan Uhibbuki/a fillah!

Saya rasa selaku orang islam, semua kita pernah berkenalan dengan istilah Insyaa Allah. Apalagi orang Aceh, kata ini bahkan menjadi trend tersendiri yaitu insya Allah versi orang Aceh. Kata yang berarti jika Allah menginjinkan ini sering disebutkan saat menerima undangan dan membuat sebuah janji. Makna awal yang dicontohkan oleh Baginda Rasulullah adalah mengatakan insya Allah untuk memastikan kalau ia datang ke undangan atau akan memenuhi janji dengan segenap usaha dan kemampuan, selama Allah tidak menghalagi. Halangan di sini adalah halangan fatal yang tak bisa ditolak dan diprediksi manusia, seperti sakit keras, meninggal, bencana alam, dan lain sebagainya yang memang betul-betul menghalanginya untuk memenuhi janji atau undangan tersebut. Pastinya, bukan halangan yang dibuat-buat!

Ironisnya, kata insya Allah yang kita kenal di Indonesia, khususnya di Aceh sudah jauh menyimpang dari makna yang seharusnya. Saat ini, siapa sih yang tidak tahu kalau seseorang menjawab “insya Allah aku datang” itu berarti ia pasti tidak akan datang. Bahkan, jika seseorang yang mendengar respon seperti ini dan ingin memastikan perihal kedatangannya, ia akan balik bertanya “Itu Insya Allah orang Islam atau Aceh?” Tentu kita semua paham, kata Insya Allah orang Aceh disini ditangkap sebagai “aku pasti tidak datang besok. Jadi jangan ditunggu!”

Begitu juga dengan kata-kata Uhibbuki/a fillah! Kata-kata yang berarti Aku mencintai/menyayangimu karena Allah ini pertama sekali saya dengar saat duduk di bangku Madrasah Aliyah di MAS Ruhul Islam Anak Bangsa. Seorang ustazah yang sangat saya sayangi dan kagumi selalu mengucapkannya kepada kami, sebagai ungkapan kalau ia menyayangi kami sebagai murid. Begitu juga dengann kami yang tidak akan segan-segan mengucapkannya kepadanya, kepada teman-teman yang lain, sebagai ungkapan persahabatan dan kekeluargaan di antara kami. Karenanya, kata itu menjadi begitu sakral, minimal bagi saya sendiri.

Namun, saat saya menginjakkan kami di dunia perkuliahan, saya dengan terpaksa harus ill feel  dengan kata-kata itu. Pasalnya, sekarang ia hanya menjadi bulan-bulanan oknum-oknum Ustad/Ustazah gadungan, yang kalau menurut teman saya disebut KW (bukan original, hahah). Saya mendengar begitu banyak kata-kata akhi/ukhti/uhibbuk fillah dipakai oleh teman-teman, baik laki-laki maupun perempuan (tapi seringnya lelaki) untuk merayu gadis/laki-laki idamannya. Yang saya pahami, kata-kata itu, yang dulu melambangkan kasih sayang antar umat islam yang murni karena Allah, berubah menjadi istilah tersendiri dalam kancah percintaan abal-abal, setara dengan kata “I Love you!” “Guek suka sama loh!” “Lon galak keu gata!” dan lain sebagainya.

Inilah mengapa, di sub-judul tulisan ini saya menyebutkan kedua kata ini sudah punah. Punah dari segi makna, yang menurut saya lebih parah daripada kepunahan dari segi pemakaian dan kemunculan dalam komunikasi masyarakat. Belajar dari kepunahan kedua istilah tersebut, saya menjadi sangat khawatir dengan kepunahan selanjutnya; KEPUNAHAN ISTILAH USTAZ/USTAZAH!

Ustaz/Ustazah, jika ditilik dari segi literature, yang berasal dari bahasa Arab berarti guru. Inilah mengapa, guru yang mengajar di pesantren sering dipanggil dengan istilah ini. Namun, dalam aplikasi keseharian masyarakat, khususnya di Aceh, kata ustaz/ustazah diletakkan setara dengan kata Tengku yang berarti orang-orang yang memiliki pengetahuan agama Islam yang lebih dibandingkan masyarakat awam pada umumnya. Inilah mengapa sebutan ustaz/ustazah sering dialamatkan kepada mereka-mereka yang bahkan tak pernah menginjakkan kaki di pesantren, tapi karena keilmuan dan keteladanan kesehariannya, masyarakat menggelarinya demikian.

Untuk kategori pertama, gelar tersebut jelas didapatkan dengan mudah; dari murid di pesantren. Namun, untuk kategori kedua, proses penggelaran tersebut tidak bisa diprediksi dan ditentukan dengan jelas, karena itu gelar sosial yang mau tidak mau harus diterima. Singkat cerita, baik dari segi literasi atau istilah, kata ustaz/ustazah memiliki makna yang sangat baik dan prestigious dalam masyarakat kita yang mayoritasnya Islam.

Pertimbangan prestigious inilah yang menyebabkan fenomena Ustaz/Ustazah KW itu muncul. Siapa sih yang tidak mau dihargai dan dicintai sebagai seorang yang berpengetahuan agama yang baik? Memiliki gelar ustaz/ustazah ibarat memiliki foucer belanja gratis kalau di Aceh; mau melamar gadis orang langsung diterima (kalau yang cewek pasti bakal dilamar banyak orang), mau ikut CaLeg masyarakat akan banyak dukung, mau belanja banyak yang nawarin gratis, kalau ke kenduri (pesta) makanan yang didapatkan pasti lebih special dari pihak lain, dan hak-hak special lainnya. Dengan semua keuntungan itu, siapa sih yang tidak mau? Saya saja mau, banget malah.. hahahah

 

Belajar Filosofi Rendang dari Saskia Gotic!

Menurut saya yang awam ini, Fenomena kemunculan Ustaz/Ustazah KW itu berasal budaya masyarakat kita yang banyak menganut filosofi Rendang. Bahkan salah satu public figure Indonesia pernah mengaplikasikannya di panggung nasional; Saskia Gotic.

Saya rasa, di Indonesia ini tidak ada orang yang tak tau Sakia Gotic, begitu juga dengan rendang. Makanan khas padang ini pernah digelari sebagai makanan paling enak dari Indonesia menurut survey konsumen manca negara. Begitu juga dengan Saskia Gotic yang beberapa waktu lalu begitu terkenal dengan goyangan ala Itiknya yang aduhai. Ia bahkan pernah menyihir seluruh permirsa Indonesia untuk berbahasa ala Vickinisasi. Namun, dalam tulisan ini saya tidak ingin membahas soal rendang dari betapa enak rasanya, juga tidak ingin membahas Saskia dari segi Goticnya. Saya ingin membahas hubungan dan relasi antara keduanya, antara Saskia dan Filosofi rendang yang ia contohkan.

Berbicara tentang filosofi rendang adalah berbicara tentang pilihan. Dalam islam kita diajarkan memilih yang sedang-sedang saja, itulah sederhananya penjelasan filosofi rendang. Pilihlah potongan yang sedang-sedang saja dalam rendang, karena yang paling kecil adalah kacang merah, sedangkan yang paling besar adalah lengkuas. Kenapa disuruh memilih yang sedang, karena dengan balutan bumbu yang sama namun ukuran yang berbeda-beda, potongan daging menjadi samar dalam rendang. Filosofi rendang mengajarkan kepada kita buruknya sifat judging from the cover (menilai dari kulit luar). Karena, jujur, potongan-potongan dalam rendang itu, jika kita  lihat sekilas (menilai dari luarnya saja) akan tampak semua sama, kecuali ukurannya. Jika kita rakus dan menilai sesuatu dari ukuran luar, tentu kita akan dengan senang hati memilih lengkuas yang terlihat lebih besar dari daging. Namun, kita baru akan kesal tentang pilihan kita itu saat kita berusaha menggigit teksturnya, yang jelas jauh berbeda dari daging. Begitulah aplikasi yang terbaca dari kisah percintaan Saskia yang memilih Vicky yang terlihat sangat luarbiasa, padalah ya… luarbi(n)asa!

Filosofi rendang dengan penilaian dari kulit luar inilah yang membuat praktek Ustaz/ustazah KW bermunculan di Aceh. Ketika syariat Islam diterapkan secara menyeluruh, dimana semua wanita berjilbab dan laki-laki berpakaian sopan, Ketika status ustaz/ustazah dinilai secara membabi buta sebagai orang yang sangat baik dan suci, tanpa adanya usaha menelaah secara kritis dan mendalam, tentu akan banyak oknum yang berusaha mengibuli masyarakat awam seperti saya ini dengan gelar dan pencitraan tersebut. Bukti sederhananya, ya itu, Aisyah teman saya yang jadi korbannya. Karena lumrahnya, dalam fenomena ini, perempuan lah yang sering menjadi korban.

 

Belajar dari Pekan Kondom Indonesia!

Lantas, penjelasan di atas adakah menyimpulkan kalau semua ustaz/ustazah di Aceh KW? Tentu saja tidak. Tulisan ini bukan bentuk pemberontakan saya akan hak spesial para ustaz/ustazah di Aceh atau karena saya membenci semua orang yang bergelarkan ustaz/ustazah. Saya sendiri, mau tidak mau (pantas tidak pantas) juga pernah mendapat sebutan yang sama dari murid-murid saya yang masih SD. Itulah kenapa saya berbicara tentang ini. Saya berbicara selaku Subjek yang sedang mendiskusikan subjek (yaitu diri saya sendiri). Tulisan ini adalah bentuk kritikan saya terhadap diri saya sendiri.

Saya menulis tulisan ini karena merasa kesal akan sifat para ‘OKNUM’ yang mengaku sebagai ustaz/ustazah, yang sadar tak sadar, telah mencoreng nama baik ustaz/ustazah secara umum. Jujur, saya mengenal begitu banyak kawan-kawan ustaza/ustazah yang memang ORIGINAl, yang mendedikasikan hidupnya untuk belajar tentang keislaman, mengamalkan dalam keseharian, dan mengajari para peserta didiknya dalam bentuk keteladanan aksi nyata. Namun, tidak bisa disangkal, saya juga berjumpa begitu banyak kawan yang –langsung tak langsung- mempraktekkan ajaran Ustaz/ustazah KW. Sehingga muncul ungkapan “Apa juga ustaz/ustazah tapi pacaran juga kayak orang lain” “Apa juga ustaz/ustazah, tapi sama lawan jenis kegatelan” “Apa ustazah/sukanya ganggu-ganggu lawan jenis saja.” Lucunya, dari sisi mereka yang KW, saya mendapatkan pembenaran “Ustaz/ustazah kan manusia juga nul. Jadi wajar” iya. Pasti! Ustaz/ustazah adalah manusia. Tapi manusia yang ustaz/ustazah, yang memiliki karakter dan prinsip hidup yang ustaz/ustazah, yang tentu tidak boleh sama dengan manusia pada umumya. Gelar ustaz/ustazah itu adalah amanah, yang tidak bisa diambil for granted (secara cuma-cuma) tanpa ada tanggung jawab sama sekali. Kalau enggak mau mempraktekkan selayaknya ustaz/ustazah, ya jangan jadi aja ustaz/ustazah! Sederhana saja.

Hal ini dikarenakan, ustaz/ustazah adalah ikon ajaran Islam dalam praktek keseharian. Jika ustaz/ustazah dinilai gagal menunjukkan nilai-nilai islami, maka yang tercoreng namanya bukan hanya ustaz/ustazah itu sendiri selaku individu mandiri, namun juga mencoreng nama baik Islam dan Muslim secara umum. Inilah perhatian pribadi saya dan juga seharusnya perhatian kita semua selaku umat Islam, khususnya bagi yang –secara sadar atau tak sadar- mengaku sebagai ustaz/ustazah.

Dalam hal fenomena ini, siapa yang harus disalahkan? Penegakan syariat islamkah? Pemberian hak-hak istimewa terhadap ustaz/ustazah kah? Masyarakat yang menganut ajaran filosofi rendang kah? Para Oknum ustaz/ustazah KW kah? Atau Para Ustaz/ustazah ORIGINAL itu sendiri?

Belajar dari kesalahan dinas/menteri kesehatan Indonesia perihal pameran kondom, yang dinilai publik sebagai sebuah kelalaian hingga bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak swasta dalam mengkampanyekan produknya; kondom. Namun ironisnya, yang buruk namanya ditengah masyarakat adalah dinas kesehatan itu sendiri. Oleh karena itu, dalam hal ini, saya memilih menyalahkan diri saya sendiri selaku pihak yang mengaku sebagai ustaz/ustazah ORIGINAL. Kenapa? Selayaknya pihak swasta yang tidak mungkin ‘mencuri’ nama dinas kesehatan, jika pihak dinas sendiri tidak lalai. Saya juga menyimpulkan tidak mungkin ada pihak Ustaz/ustazah KW, jika pihak yang ustaz/ustazah Original tidak menunjukkan sisi ‘lalai’ yang bisa mereka masuki.

Inilah tujuan dari tulisan saya. Dalam fenomena ini, mari kita posisikan diri kita selaku pihak yang mengaku diri sebagai Ustazah ORIGINAL (karena saya tidak ingin menghakimi siapapun sebagai Oknum ustaz/ustazah KW). Mari juga, mau tidak mau, kita teguhkan prinsip dan praktek kehidupan kita berdasarkan ajaran Islam yang seharusnya, yang tidak mudah mempermainkan perasaan sesama kita, selaku saudara sesama muslim atau pun selaku saudara sesama satu Kakek Adam. Jadilah ustaz/ustazah yang ustaz/ustazah saja, tanpa ada penambahan kata ‘tapi pacaran!,’ ‘tapi gatal,’ dan tapi-tapian negative yang lainnya. Sehingga, dengan figure kita yang original, gelar ustaz/ustazah itu tidak akan ‘punah’ dari pertimbangan sosial kemasyarakatan kita. Bahkan kita berharap ia kembali sakral dan menjadi panutan, selayaknya seharusnya. Jika pun ada beberapa oknum yang berusah mencuri nama baik kita, tapi dengan figure baik yang kita terapkan, masyarakat tidak akan lagi mudah percaya pada mereka-mereka yang KW. Therefore; SAY NO TO USTAZ/USTAZAH KW!!!

*note: khusus untuk kawan-kawan saya yang perempuan, pilih dan nilai lah sesuatu/seseorang secara menyeluruh. Jangan pakai filosofi rendangnya Saskia, yang mudah tergoda dengan penampakan luar saja. Jika untuk kategori ustaz saja harus diselidiki dengan kritis, apalagi untuk pihak-pihak yang tidak mendapat embel-embel ini. Intinya; semua orang harus diperlakukan dengan persis sama. Karena, mau tidak mau, dalam hal ‘hubungan,’ wanita lah yang sering menjadi korban. Untuk sang teman terbaik, yang sabar! 😉

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.