Friday , 15 December 2017
Home » CATATAN KEHIDUPAN » Secuil Ironi Hari Ini
Secuil Ironi Hari Ini

Secuil Ironi Hari Ini

Jika hari selasa Rahmi, Suci, dan Riska yang mengekor saya ke ‘Keudee Kupi,’ untuk mendaftar kuliah. Hari ini Dek Zikrur, murid SMP yang masih berseragam SMP yang setia melakukannya. hihihi

Ceritanya begini.
Kemarin saya mendapat telpon dari pihak beasiswa Tahfiz Baitul Mal, kalau ada salah satu murid kami, Zikrur, yang tidak di tempat saat pihak Baitul Mal melakukan verifikasi. Karenannya mereka meminta si anak untuk didatangkan ke kantor Baitul Mal untuk wawancara.

Tadi pagi, saya langsung ke rumah Zikrur untuk mengabari perihal itu. Keluarganya sangat antusias. Namun, ada raut bingung disana, hingga keluarlah percakapan seperti ini;
Me: Bapak antar langsung ke kantor Baitul Mal ya. Tau kan pak dimana kantornya?
Ayahnya (A): Tidak.
Me: Tau kantor gubernur pak?
A: tidak.
Me: Ok. begini saja. Bapak ikut saya saja boleh? Biar saya tunjukin jalan. Karena saya mungkin pulangnya agak sore hari ini. Jadi kasihan si adek kalau ngekor saya kemana-mana.
A: *diam.. raut masih bingung.
Me: Kalau ikut saya. Bapak tau jalan pulang kan?
A: tidak.
Ibunya: Kalau tidak saya saja yang pergi.
Me: Ibu bisa ngendarain motor dan tau jalan pulang?
I: tidak.
Me: Wah, sama saja. Yasudah. Si adek saya bawa saja. Tapi dia harus sabar ikut-ikut saya kemana saya pergi pak ya.
A: Iya tidak apa-apa. Dia bisa ikut kemana Imah pergi. *binar cerah mulai keluar.
*Ya Tuhan. Mendengar penjelasan keduanya, tepi mata saya menghangat. Rasanya ingin saya menangis saja tadi pagi. Tapi kan tidak mungkin.

Jujur, saya memang bukan orang yang ahli dalam mengingat alamat. Tapi, dalam bayangan saya, setidak-tidak-tahunya alamat suatu tempat, kantor gubernur dan mesjid raya adalah dua tempat yang semua orang Aceh harus tahu. Tapi, meski jarak kantor gubernur dan daerah kami hanya sekitar 25 km, ada juga masyarakat yang tidak tahu.

Tulisan ini bukan untuk mengkerdilkan keluarga dek Zikrur yang tidak tahu alamat, tapi untuk mengabari fenomena bahwa segitulah faktor finansial mencekik sebuah keluarga. Karena faktor finansial, bukan hanya akses pendidikan dan welfare yang bermasalah, tapi akses mobilitas dan informasi juga sama sekali kurang. Keluarga dek Zikrur adalah potret kecil dari potret gunung es masyarakat pedesaan di Aceh.

Jujur, ayahnya adalah salah satu sosok bapak yang sangat saya kagumi. Beliau lah sosok pak Andi yang saya kabari tempo hari. Meski dengan berbagai terpaan kesusahan hidup, ia tetap gemar berbagi setiap rejeki yang didapatkannya. Itulah mengapa, meski badan remuk redam, meski saya harus menahan kasihan melihat dek Zikrur meengekor kemana pun saya pergi hari ini, saya tetap akan membantu beliau sebisa saya.

IMG-20140424-02073Karenanya jadi lah ia mengekor saya, dari Baitul Mal ke UIN Ar-Raniry, dari UIN ke Haba Cafe (karena wi-fi nya limited) pindah lagi. Hampir saja saya membawanya ke kantor gubernur untuk menanyakan kejelasan perihal beasiswa LPSDM. Tapi mengingat sistemnya yang tak jelas, saya jadi hilang selera.

Yang jelas, peristiwa hari ini membuat saya sadar kalau apapun yang terjadi, saya tidak boleh jatuh. Saya harus terus kuat, karena banyak adik-adik yang mengantri untuk dijaga. Banyak adik-adik yang padahal mereka punya kemampuan yang sama mendapatkan akses pendidikan, tapi karena faktor finansial, semua akses itu tertutup. Bahkan untuk akses alamat dan informasi saja mereka bisa jadi kepayahan.

Semoga TPMT tetap berjaya untuk membantu adik-adik ini mendapatkan hak terhadap akses-akses itu. Semoga juga adik-adik ini bisa lulus beasiswa yang sedang diikuti, demi masa depan yang lebih cerah. Semoga juga saya dapat kesempatan beasiswa S2 ke luar negeri, agar bisa membuka pintu-pintu peluang yang lebih besar untuk adik-adik. Semoga Aamiin Ya Allah! Semoga aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published.