Friday , 15 December 2017
Home » CATATANKU & TPMT » Semua Berawal dari Tiga Titik (behind the scene of TPM Tanyoe)
Semua Berawal dari Tiga Titik (behind the scene of TPM Tanyoe)

Semua Berawal dari Tiga Titik (behind the scene of TPM Tanyoe)

“kau enak Mah, semua kau punya. Kau memang tipe orang yang mudah bergaul jadi mudah mengajak orang untuk kerjasama, kau punya dana yang cukup, keluarga yang mendukung, dan juga karena penduduk sekitar baik-baik orangnya, jadi mudah diajak bekerja sama. Makanya, kamu berhasil membangun TPM Tanyoe dengan mudah”

Kira-kira begitulah, yang terbersit dibenak teman-teman, melihat aku dan TPM Tanyoe hari ini. Ini bukan hanya kesombonganku semata, tapi karena aku memang pernah mendengar langsung kata-kata itu. Tapi apakah benar jalanku semulus itu? Jawabannya totally wrong.
Jujur, TPM adalah anugerah terindah dalam hidupku. Karena selain aku harus berjuang, TPM juga menjadi titik balik bagiku untuk menghargai diriku dan segala rahmat Allah di setiap sisi ke-aku-anku.

Percaya atau tidak, langkahku menuju lahirnya TPM Tanyoe, yang membentuk siapa aku hari ini, berawal dari “sesuatu” yang awalanya kusebut ia sebagai bencana Tuhan yang tak terkira. Sesuatu yang membuatku banting setir, dari sikap mengutuki diri, menyalahkan semua hal yang terjadi dalam kehidupanku yang tak pernah sesuai keinginanku, dan bahkan mengutuki Tuhan. Jujur, dulunya aku bukanlah seseorang yang begitu baik. Aku sibuk menerka-nerka, kenapa aku harus begini? Begitu? Dan masih banyak lagi. Layaknya remaja tanggung yang sibuk mencari jati diri. Sebut sajalah begitu, biar tidak terdengar begitu ekstrim.

Namun, ditengah kepribadianku yang agak bagaimana begitu, tiba-tiba di akhir bulan April 2010, aku divonis menderita penyakit yang yah cukup mencengangkan bagi seorang remaja. Tak usahlah kau tahu teman sakit apa itu, tak tega aku menyebutnya. Yang jelas, aku harus menjalankan serangkaian pengobatan yang tak murah, bahkan harus diterbangkan ke negeri jiran, penang Malaysia.
Kejadian itu menyadarkanku akan kehidupan yang ternyata tak selamanya. Hanya sebentar saja. Meski aku masih muda, jika Tuhan berkehendak, kapan pun itu, detak kehidupanku akan berhenti selamanya. Inilah, titik balik pertama yang membuatku berikrar “tika aku kembali ke asalku besok, aku ingin ada sedikit bekal yang kubawa. Meski tak banyak, tapi bisa berguna bagi diriku sendiri dan yang lainnya.” Tapi, waktu itu aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan. Belum ada bayangan apa-apa dibenakku, bentuk berguna itu akan aku realisasikan seperti apa. Yang penting aku ingin berguna. Jika pun tidak bisa berguna, paling tidak janganlah menyusahkan. Ruang lingkup yang kucanangkan waktu itu pun tidak muluk-muluk. Aku hanya ingin berguna bagi keluargaku, membahagiakan mereka yang selalu ada untukku, di kala senang atau susah, terkhusus ibuku.

Tapi jujur, sekuat apapun niatku waktu itu. tetap saja, pesimis dan galau selalu saja datang mengahadang. “Aku akan segera mati.” Pikiran itu selalu menghantui keseharianku. Jadinya, selain disibukkan dengan program pengobatan yang padat, kuliah yang juga tidak boleh ditinggalkan begitu saja, aku juga sibuk menghitung keresahan. Jadinya, Stress selalu bawaannya.

Namun, tanggal 8 Agustus 2010, setitik tinta baru dicelupkan kekehidupanku. Meski agak berbeda, tapi cukup berharga. Hari itu, niatnya hanya sekadar iseng, aku mengikuti training menjadi anggota Forum Lingkar Pena (FLP) wilayah Aceh. Tapi lambat laun, kebersamaan ini memberi warna tersendiri. Sebenarnya dari dulu, aku memang suka membaca, terkhusus buku cerita, apakah novel atau kumpulan cerpen. Yang paling kugemari, buku-buku yang berisi kisah-kisah sederhana tapi menyentuh, seperti chicken soap. Namun, FLP “memaksa” aku untuk lebih dekat lagi dengan buku dan segala bacaan. Hingga semakin banyak aku membaca, semakin banyak pula aku menerawang dan mengandai-andai.
Sedikit demi sedikit, sketsa wajah TPM mulai tergoreskan, meski belum berbentuk. Karena, di FLP, aku selain disibukkan dengan hal yang berbau tulis menulis, aku juga mulai diperkenalkan dengan ranah sosial. Sebelumnya bukan berarti aku tidak menyukai aktifitas sosial. Sangat suka malah, hanya saja fasilitas dan kesempatannya, yang langka kutemui dalam kehidupanku.

Mulai mengenal anak-anak

Sebelumnya, aku tidak begitu sibuk dengan anak-anak. Memang aku ikut membantu ibu mengajari mereka mengaji setiap malam, kecuali malam minggu. Namun, karena jumlah anak-anak yang sedikit, sekitar 12 orang, dan juga hampir semuanya perempuan, cuman Mahmuda yang laki-laki sendiri. Tentu, tidak banyak daya upaya yang dibutuhkan untuk menghadapi mereka-mereka, yang memang sangat baik-baik itu. Tidak menantanglah istilahnya. heheh

Lantas, titik ketiga menetes, saat abang aku sibuk melanjutkan study Masternya, hingga murid mengajinya nyaris terbengkalai. Ya, sebelum melanjutkan S2, ia yang mengajari anak-anak mengaji di Dayah, khususnya murid laki-laki. Sedangkan yang perempuan belajar di rumah bersama ibu dan aku. Begitu ia sibuk dengan tugas dan perkuliahannya, ia mulai kewalahan menghadapi anak-anak. Jadwal kuliah dia yang memang sering berlangsung hingga sore, ditambah dengan jarak rumah kami (sibreh-darussalam) yang begitu jauh, sering membuat dia pulang kemalaman, dan jadwal mengaji terlewatkan. Bahkan terkadang ia tidak pulang, menginap di rumah Lemku di Tungkop.
Entah kenapa, aku hanya tidak kuat saja mendengar setiap malam anak-anak berteriak dari luar rumah.

“Tengku, ada mengaji malam ini?”
“Tidak, tengku belum pulang. Malam besok ya.” Jawabku sambil menyembulkan kepala dari balik pintu.
“alaahhh..” ekspresi kekesalan mereka begitu alami. Dengan mata bersalah aku melihat tubuh-tubuh kecil itu menjauh. Bahkan bukan hanya satu atau dua orang yang bertanya. Mungkin karena tidak percaya dengan pernyataan temannya, setelah datang satu orang bertanya, datang lagi yang lain. Juga untuk bertanya hal yang sama. Lengkaplah penderitaanku, menggigit bibir setiap mereka mengeluh pulang.
Begitu terus setiap malam, selama Abangku tidak pulang. Kalau pun pulang ia bahkan tidak sanggup untuk duduk, langsung terkapar setelah magrib karena kecapekan.

Hingga suatu malam, abangku memutuskan untuk menutup pengajian di Dayah, karena tidak ada yang mau menggantikannya. Ia juga kasihan melihat anak-anak, setiap malam datang ke rumah membawa pertanyaan yang sama dan juga pulang dengan jawaban dan kekesalan yang sama. Tapi aku malah lebih kasihan. Bagaimana tidak? Jika anak-anak ini berhenti mengaji, lantas mau jadi  apa mereka saat besar nanti. Karena saya yakin, mereka hanya mengaji saat di tempat ngaji saja. Jangan harap di rumah, entah lalai dengan TV atau langsung tertidur.

Aku tidak boleh tinggal diam. aku langsung merayu ibu untuk mau mengambil alih murid mengaji abangku itu, meskipun mereka laki-laki semua. Pertama ibu agak enggan menerima, karena terbayang ia tidak akan sanggup menghadapi semua anak-anak itu, apalagi laki-laki semua. Ibu takut, bukannya belajar, tapi malah mengganggu murid-murid perempuan yang memang rajin mengaji. Tapi setelah aku menjanjikan kalau aku yang akan mengajari mereka dan menjamin mereka tidak akan mengganggu anak-anak yang lain. Ibu pun setuju. Itulah awal dari perkenalan dan kedekatanku dengan anak-anak. Sebenarnya jujur, waktu itu, asli, aku hanya nekat dan tidak pikir panjang tentang aku sanggup atau tidak. Padahal, sedikit pun aku tidak yakin kalau aku bisa meyakinkan mereka untuk belajar. wong mengajar anak-anak yang batat begitu saja aku belum pernah. Bagaimana bisa yakin coba?

Tapi, entah kenapa, karena rasa kasihanku kalau mereka harus berhenti mengaji lebih besar, aku berani meyakinkan diriku kalau mereka akan bisa diajak kerjasama (untuk belajar ngaji). Lantas, seiring waktu berjalan, kebersamaanku dengan anak-anak semakin membaik, laksana kakak-adik saja, bukan seperti guru ngaji. Mungkin itu juga kenapa, ketika kucanangkan aku ingin mengajak mereka sama-sama medirikan TPM, antusias mereka sungguh luar biasa, karena mereka betul-betul merasa TPM Tanyoe itu milik kita bersama. Itulah asal mula nama “Tanyoe” (kita) berasal. Sungguh tak terlupakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.