Friday , 15 December 2017
Home » CATATANKU & TPMT » Sepenuh hati dan Realita Hari Ini
Sepenuh hati dan Realita Hari Ini

Sepenuh hati dan Realita Hari Ini

Jum’at sore, hujan mengguyur deras halaman TPMT. Saya baru saja tiba di sana berboncengan dengan rudhah, saat anak-anak sedang shalat ashar. Jadilah saya menunggu di teras dayah, sambil bertanya perkembangan kantin TPMT hari ini kepada Suci dkk. Kantin? Yup. Saat ini TPMT sudah punya kantin sendiri, meski kecil, cukuplah untuk tidak membuat anak-anak berlari kesana kemari saat hendak jajan. Kantin ini diprakarsai oleh ide-ide cerdas para pengurus muda TPMT, dan didanai oleh dana pengurus sendiri. Yang mana, keuntungannya akan dipakai untuk keperluan bersama nantinya.

“kak, kue pada habis semua, sudah bisa beli yang lain lagi. Beli permen karet juga ya! Anak-anak banyak yang nanya itu.” Lapor suci, sambil menghitung jumlah pendapatan hari ini dengan teliti. Pada dasaranya, kue yang ada masih lumayan banyak, menurut saya. Namun, tak lama kemudian, saat dayah bergemuruh. Anak-anak berhamburan turun selepas shalat, hipotesis Suci terbukti. Kue ludes semua!

Lucu melihat anak-anak ini membeli kue sambil berdesak-desakan. Suci dan kawan-kawan yang piket menjaga kantin hari itu sampai kewalahan. “Suruh ambil sendiri kembaliannya, biar anak-anak belajar berhitung.” Pintaku pada mereka. Karena, tujuan awal pengadaan kantin ini adalah sebagai sarana pembelajaran matematika dan kejujuran kepada anak-anak. Namun, saat semua ingin membeli pada waktu yang bersamaan, teorinya jadi lain. Persis seperti penjelasan Ulfa, “Enggak mungkin k’imah. Anak-anak ini kita suruh ambil kembalian sendiri kalau sudah ramai begini malah bengong, berdiri mematung, ada yang malah enggak bayar nantinya.” Ia terus cekatan meladeni anak-anak, sampai mimi berujar. “Kak, hujan-hujan begini, enaknya jalan-jalan.”

Selaku pawang hujan, yang hobinya keluyuran saat hujan. Saya langsung terpanggil denagn ajakan ini. Jadilah kami meluncur ke pasar Sibreh, ditemani hujan yang tak henti. Tujuannya jelas; membeli perbekalan kantin TPMT. Saat tiba di sana, saya mencari Munzir (samaran), pegawai toko kelontong langganan kami. Biasanya dialah yang mengurusi semua pesanan dan faktur pembayaran kami dengan baik. “Munzir mana?” “dia enggak masuk, sakit.” Tiba-tiba seorang ibu berujar “Nah, kan semua cari Munzir. Memang kalau tidak ada dia, susah kita belanja.” Ungkapan ibu tadi langsung membuat saya teringat akan munzir dan karakternya. Pernyataan itu, juga membuat saya ingat akan satu kata; professional.

***

Ia sering dipanggil Munzir. Aku tidak tahu nama aslinya siapa. Ku terka, umurnya sekitar 2 tahun lebih muda dariku. Ia barubekerja di toko kelontong yang sudah jadi langganan amak itu; Amak sudah langganan mungkin sejak saya belum lahir kali ya. Meski ia terhitung karyawan baru, keberdaannya sungguh memberi warna tersendiri untuk toko tersebut. Buktinya, ibu tadi juga merasakan hal yang sama dengan kami; kehilangan.

Sekilas, tidak ada hal yang istimewa dari Munzir. Perawakannya sawo matang, kurus, dan biasa saja. Kalau kata karena kapoor dalam salah satu film india “perfectly ordinary!” Namun, pembawaannya yang ceria, ditambah tingkah usil tapi cekatan dalam bekerja, sering membawa rasa nyaman kepada pelanggan. Ia membungkus gula sambil bersenandung. Ia menenangkan ibu-ibu yang antri membeli dengan lelucon sederhana, sambil terus bekerja. Jujur, saya salut dengan anak yang satu ini. Melihat kesehariannya dengan pekerjaan yang tiada habis dan pelanggan yang sering tak sabaran seperti saya, ia termasuk kategori orang yang sangat sabar. Melihat caranya bekerja, aku bisa merasakan aku bisa merasakan apa yang disebut bekerja sepenuh hati, bukan setengah-setengah, bukan juga asal-asalan. Kalau bahasa bekennya sering disebut dengan istilah professional.

Mungkin, bagi sebagian orang yang memandang rendah buruh kerja toko kelontong, tentu akan berfikir kalau kata-kata professional itu tidak ada dalam kamus mereka. Tapi bagiku, kinerja Munzir cukup membuatku malu pada diri sendiri yang sering lalai dan setengah-setengah dalam bekerja. Apalagi saat mendengar komentar beberapa teman yang seolah meremehkan usahaku mendidik anaka-anak ini yang berbasis sukarela. “Kalau mau cari kerja, jangan sama husnul, itu tidak benefit. Ini jaman susah, cari kerja yang kommersil.”

Jujur, saya sepakat dengan ungkapan di atas. Memang, kinerja relawan sangat tidak benefit dari segi financial. Dan kita tentu tidak bisa memungkiri kalau kita butuh uang dalam hidup ini. “Uang bukan segalanya, tap segalanya tanpa uang sama saja nihil.” Begitulah kira-kira teorinya. Karena sadar akan hal itu, itulah kenapa saya hanya meminta setiap relawan anya mengajar di TPMT secara sukarela sekali seminggu, sehari saja, tapi komitmen dan professional.

Professional? Iya. Mungkin bagi sebagian orang, kinerja sukarelawan dinilai jauh dari azas professionalitas. Tapi bagi saya, itu sama sekali tidak benar. Belajar dari karakter kinerja Munzir yang sepenuh hati, meski pekerjaannya hanya remeh temeh bagi sebagi orang yang lain, saya sadar, sungguh sadar, sekecil apapun pekerjaan kita, harus dilakukan dengan sepenuh hati dan secara professional.

***

Dalam dunia kerja, professionalitas adalah modal awal kesuksesan. Hanya saja sayang, realitas hari ini, kita sering berjumpa dengan orang-orang yang sangat jauh dari teori itu. Tak usah jauh-jauh, saya jadi teringat dengan kisah seorang bapak yang saya mintai tolong menulis di dinding TPMT. Awal kesepakatan, jerih akan diberikan diakhir kinerja. Namun, karena umurnya lebih tua dari saya, dan karena ia mengaku butuh uang, saya menyerahkan sebagian uang itu di muka. Yang membuat saya kesal adalah hari terakhir dia bekerja. Dimana sebenarnya hanya sedikit lagi yang harus diselesaikan, ia datang meminta semua sisa jerihnya, dengan janji pekerjaannya akan diselesaika hari itu juga. Karena ia datang sungguh pagi dan karena saya percaya dengan ucapannya begitu saja, saya menyerahkan semua uang itu.

Pada dasarnya, sisa uang itu tidak banyak lagi. Namun, melihat fakta bahwa esoknya ia tidak pernah datang lagi untuk menyelasaikan tugas itu, hingga saya sendiri yang harus menyelesaikannya kembali, padahal jumlah uang jerih sudah diambilnya semua. Sungguh suatu hal yang membuat saya kecewa dan sadar kalau tidak semua orang biasa dipercaya kata-katanya. Jujur, daris segi pembawaannya yang lembut, pendiam, dan terlihat baik, saya tidak menyangka akan tertipu. Tapi itulah yang terjadi.

Mulai saat itu, saya berjanji pada diri sendiri untuk tidak akan percaya dengan omongan orang begitus aja, khususnya dalam perihal keuangan. Apalagi dengan tipe orang “meu ie puteh han glah, padahai ie-ie batre leupah.” Mulai saat itu, saya bahkan sampai berfikir “too hard to find a good people now days, they are too good to be true.”

***

Di tengah hujan, kami mengangkut barang-barang belanjaan ke motor. Sebenarnya, barang belanjaan itu terlalu banyak untuk diangkut oleh dua wanita seperti kami. 3 kardus Aqua gelas, satu kantong besar kue-kue ringan. Hingga bapak-bapak yang duduk di keudee kupi menertawakan kami yang kepayahan menata keseimbangan barang-barang itu. Tapi, karena sudah terbiasa mandiri, it’s all just fun for us.

Saat itulah, saya melihat seseorang. Dalam guyuran hujan, tanpa mantel, tanpa jaket yang memadai, ia berlalu berlawanan arah dengan kami, sambil tangannya sesekali melawan terpaan hujan. Ada rasa senang yang bergelayut di hati melihatnya. Karena ia adalah satu-satunya relawan pengajar yang berhadir dengan baik ke TPMT hari ini, meski di tengah hujan yang begitu deras.  Ah, sepertinya saya harus menarik kembali kata-kata  kalau di jaman sekarang orang baik itu “too good to be true,” tapi “they are really true.” Terimakasih pak guru untuk semangat berbaginya!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.