Friday , 15 December 2017
Home » CATATAN PIKIRAN » Terimakasih untuk Semua yang Tercinta!
Terimakasih untuk Semua yang Tercinta!

Terimakasih untuk Semua yang Tercinta!

Terimakasih banyak Allah. Untuk setiap berkah, untuk setiap pembelajaran kehidupan.

Bagi saya, berkah terbesar yang Allah berikan kepada saya adalah terlahir sebagai penutup dalam keluarga Adnan. Menjadi anak ayah Adnan Hasyim dan mamak Nasriah Musa, menjadi adik abang dan kak ati, akak dan bang Ki, ngoh dan kak opi, lem dan kak mi, adun, bang cut dan kak dewi, anda dan bang wat, bang rayeuk adalah kebahagiaan terbesar dalam hidup saya. Hal itu bukan karena saya merasa mudah mendapatkan semua yang saya inginkan, bukan juga karena siapa mereka hari ini. Akan tetapi, semuanya karena siapa mereka ketika saya kecil dan bagaimana mereka mendidik saya menjadi siapa saya hari ini. Jujur, saya sangat bahagia menjadi bagian dari keluarga ini. Bukan karena saya bisa numpang tenar dan keren, tapi karena saya betul-betul didik menjadi manusia yang peduli dengan sesama.

Karenanya; jika ada yang ingin mengucapkan selamat untuk husnul hari ini, tolong ucapkan selamat untuk amak dan ayah kami tercinta yang telah sukses mendidik 9 putra-putri mereka menjadi manusia. Meski harus menerobos segala keterbatasan kehidupan dan cemoohan. Tolong juga sampaikan terimakasih saya teruntuk abang-abang dan kakak-kakak saya tersayang yang telah begitu bijaknya memberikan contoh bagaimana menjadi manusia yang baik dan berguna bagi sesama.

Jika ada yang ingin mengatakan husnul hebat; tolong sampaikan kata hebat itu untuk amak saya yang telah mendidikasikan waktu luangnya di malam hari untuk mendidik anak-anak mengaji Al-Qur’an selama hampir 40 tahun di pengajian An-Nur, hingga sekarang. Amak yang selalu tegar dan berprinsip “amak bantu anak orang, insya Allah, Allah akan bantu dan jaga anak-anak amak.” Tolong sampaikan juga kata itu untuk ayah saya yang semenjak masa konflik hingga saat ini telah mengayomi masyarakat sebagai keuchik, mukim, dan lain sebagainya. Ayah yang selalu menyayangi kami dalam diam, yang tak pernah memuji, tapi selalu bijak mendidik.

Jika ingin mengatakan husnul luarbiasa; tolong titipkan kata itu untuk abang-abang dan kakak-kakak saya yang telah lelah berjuang mengejar cita-cita mereka, agar kami yang kecil-kecil ini tak takut bercita-cita dan berputus asa. Meski harus menangis darah, menahan malu, dan bahkan karena sangking susahnya kehidupan masa kecil kami, mereka harus tegar mendengar ejekan ‘kalau besar nanti, akan ada diantara kami yang jadi sampah masyarakat.” Tapi, ternyata skenario Allah itu tak pernah ada yang bisa memprediksinya. Sejauh yang saya tahu, ejekan itu tak pernah berwujud, dan semoga saja, selalu tak berwujud. Aamiiin Ya Allah, aamiin.

Jika ingin mengatakan husnul keren; tolong sampaikan ucapan itu untuk kakak-kakak dan abang-abang ipar saya yang sangat luarbiasa. Bagi saya, mereka adalah bidadari dan bidadara. Keberadaan mereka adalah berkah tersendiri bagi kami. Karena mereka menyayangi kami selayaknya keluarga sendiri, yang bahkan untuk beberapa hal saya jauh lebih dekat dengan kakak-kakak ipar daripada abang saya sendiri. Buktinya, ketika ke Jakarta untuk menerima penghargaan, salah satu kakak ipar saya lah yang menemani dan menjaga saya dengan baik. Memiliki mereka adalah sama bahagianya dengan memiliki keluarga Adnan, karena paras dan hati mereka sama-sama cantik. Semoga bang rayeuk saya juga diberkahi dengan jodoh yang secantik (hati, akhlak, dan parasnya) kakak-kakak ipar yang sudah ada. And hopefully, mee too! hahaha

Kendatipun mereka telah keren hari ini, satu hal yang sangat saya banggakan dari mereka semua. Mereka tidak pernah mendidik saya menjadi anak yang manja, malas, dan sombong. Jujur, saat ide pendirian TPMT mencuat ke daratan, tak ada satu pun dari keluarga saya, kecuali Ngoh yang mengiyakan niat itu. Hal itu bukan karena mereka tidak sayang dengan saya dan anak-anak lainnya. Hal itu semata-mata untuk menguji sejauh mana niat dan usaha saya untuk mendirikan TPMT. Meskipun mengiyakan, Ngoh sendiri tak pernah turun langsung membatu. Ia hanya menunjukkan jalan, sedangkan yang mengusahakan dan berjuang adalah saya sendiri. Saat itu saya bahkan membuat taruhan dengan amak “kalau nilai kuliah saya anjlok, maka TPMT harus tutup.” Awalnya saya kesal, namun akhirnya saya sadar itu adalah tantangan yang harus saya hadapi supaya saya bisa jadi insan yang professional.

Itulah mengapa, jujur, saya akan sangat marah dan kesal jika ada yang dengan teganya mengatakan “Si husnul apa enggak sukses bangun TPMT, anak siapa dulu? adik siapa dulu?” Keluarga saya memang keren (minimal menurut saya sendiri). Tapi keren mereka bukan karena mereka memanjakan saya. Mereka keren karena telah mendidik saya untuk berdiri di kaki saya sendiri dan berusaha melebarkan tangan untuk memeluk adik-adik lain yang kebetulan tidak mendapatkan kesempatan yang sama dengan saya. Mereka mengajari saya mengenal arti syukur yang sesungguhnya, syukur akan nikmat yang Diberi melalui berbagi dengan sesama.

Sekali lagi, selamat untuk amak dan ayah. selamat untuk abang, akak, ngoh, lem, adun, anda, bang cut, bang rayeuk, and semuanya. Selamat untuk kita semua. Terimakasih banyak untuk setiap kasih sayang dan pendidikannya. Semoga kita selalu diberkati oleh Allah dalam kebaikan dan perbaikan. aamiin. :)

tertanda
kunang-kunang Nusantara 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.